Teheran, LiputanIslam.com – Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan drone Mohajer-10 pada pameran dan upacara yang menandai Hari Industri Pertahanan, yang dihadiri oleh Presiden Ebrahim Raisi dan komandan senior Angkatan Darat dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Selasa (22/8).
Pesawat serang nirawak, yang menyerupai MQ-9 Reaper yang diproduksi oleh Amerika Serikat (AS), itu ditampilkan dalam video penerbangannya dari sebuah lapangan terbang. Disebutkan bahwa drone Mohajer versi terbaru itu mampu membawa berbagai jenis bom dan peralatan anti-radar serta melakukan pengawasan.
Mohajer 10 dapat membawa hulu ledak seberat 300kg, terbang dengan kecepatan maksimum 210 kilometer per jam, menampung 450 liter bahan bakar, dan dapat melakukan perjalanan tanpa henti di ketinggian 7.000 meter hingga jarak 2.000 km, yang berarti dapat mencapai Israel.
Media Iran memajang poster Mohajer-10, yang menggambarkannya terbang di awan menghadap fasilitas nuklir Dimona di Israel dengan tulisan berbahasa Persia dan Ibrani; “Bersiaplah untuk melakukan perjalanan ke Zaman Batu.”
Berdiri di depan berbagai macam rudal besar dan diapit oleh komandan militer, Raisi dalam upacara itu mengatakan bahwa dua tipe rudal balistik jarak jauh yang telah dipamerkan sebelumnya sekarang siap untuk diserahkan ke IRGC.
Satu di antara dua tipe rudal itu bernama Haj Soleimani, yang diambil dari nama jenderal legendaris Qassem Soleimani, yang dibunuh oleh AS di Irak pada Januari 2020 dengan menggunakan drone MQ-9 Reaper.
Sedangkan satu rudal lainnya bernama Khorramshahr, yang diambil dari nama kota yang direbut kembali oleh pasukan Iran pada tahun 1982 dari tangan pasukan agresor Irak di era diktator Saddam Hossein.
Raisi mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa kemajuan militer Iran telah secara signifikan mengubah cara pandang kawasan dan dunia terhadap Teheran.
“Kemarin mereka memandang kita sebagai konsumen dan negara yang membutuhkan. Saat ini, mereka melihat kita sebagai produsen yang dapat memberikan banyak kontribusi dalam industri pertahanan dan militer,” katanya.
Berbicara kepada sekelompok pejabat dan ilmuwan kementerian pertahanan, dia mengatakan Iran terus mencari hubungan persahabatan dengan semua negara tetapi tidak akan ragu untuk “memotong tangan” yang ingin menyerang Iran.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Iran Brigjen Mohammad Reza Ashtiani menyebutkan berbagai pencapaian di sektor pertahanan negara selama dua tahun terakhir.
Dia mengatakan bahwa para ahli Iran telah berhasil mengurangi target rudal balistik menjadi kurang dari 35 meter dan meningkatkan jangkauannya menjadi 2.000 kilometer.
Di bidang pertahanan udara, tambahnya, beberapa sistem telah dikembangkan untuk menghadapi sasaran ketinggian rendah dan rudal jelajah.
Ashtiani juga menyebutkan bahwa para ahli Iran telah merancang dan memproduksi rudal jelajah berbasis udara Nasr dan Ghadir (dengan jangkauan 35 hingga 200 kilometer) serta rudal serangan darat Talaiyeh dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer.
Di bidang pesawat nirawak, Kementerian Pertahanan secara serius mengejar pengembangan drone strategis generasi kelima di bawah program “drone leap”, yang juga melibatkan pengembangan kecerdasan buatan bersama dengan kemampuan peperangan elektronik dan misi pengumpulan sinyal.
Ashtiani juga mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir, produksi rudal balistik berbahan bakar padat, serta rudal pertahanan udara dan jelajah telah melonjak masing-masing sebesar 64, 45, dan 100 persen. (mm/fna/aljazeera)
Baca juga: