Iran Laporkan Ke PBB Pelanggaran Zona Udaranya Oleh Nirawak AS

0
32

NewYork, LiputanIslam.com –   Iran mengutuk pelanggaran zona udaranya oleh pesawat pengintai Amerika Serikat (AS), dan menyatakan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah surat bahwa masyarakat internasional perlu menghadapi tindakan AS mengusik stabilitas.

“Iran mengutuk sekeras mungkin tindakan salah yang tidak bertanggung jawab dan provokatif oleh AS, yang memikul tanggung jawab internasionalnya,” tulis duta besar Iran untuk PBB, Majid Takht-e Ravanchi dalam surat yang ditujukan kepada Sekjen PBB, António Guterres dan Dewan Keamanan PBB, Kamis (20/6/2019)

Sebelumnya di hari yang sama pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengaku telah menembak jatuh sebuah pesawat nirawak AS RQ-4 Global Hawk yang melanggar zona udara Iran.

Baca: Video Detik-Detik Penembak Jatuhan Pesawat Nirawak RQ-4 Milik AS Oleh Iran

Dalam surat itu Ravanchi juga menegaskan negaranya berhak mempertahankan kedaulatannya sesuai Piagam PBB.

Ravanchi menjelaskan, “Sementara Republik Islam Iran tidak mencari perang, ia memiliki hak yang melekat, di bawah Pasal 51 Piagam PBB, untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan terhadap setiap aksi permusuhan yang melanggar wilayahnya, dan bertekad mempertahankan wilayahnya dengan penuh semangat, laut dan udara.”

Dia meminta masyarakat internasional menekan AS agar mengakhiri tindakan “tidak sah dan tidak stabil” di wilayah Teluk Persia.

“Ini bukan tindakan provokatif pertama AS terhadap integritas teritorial Iran,” lanjutnya.

Dia mengingatkan PBB bahwa Iran selalu mengecam tindakan ilegal AS melalui pemangku kepentingan Washington di kedutaan besar Swiss untuk Iran.

Baca: Ini Dia Senjata Buatan Iran Yang Baru Saja Merontokkan Nirawak Pengintai AS

Sekjen PBB António Guterres mengaku cemas menyaksikan ketegangan di Teluk Persia.

“Dia mengimbau semua pihak untuk menahan diri secara maksimal dan menghindari tindakan apa pun yang dapat meningkatkan situasi yang sudah tegang,” kata Stephane Dujarric, juru bicara Guterres. (mm/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS: