Teheran, LiputanIslam.com –  Hubungan Iran dengan Kanada memanas setelah pemerintah Kanada melelang aset Iran sesuai keputusan pengadilan untuk memberikan ganti rugi kepada keluarga “korban teror”.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi, Jumat (13/9/2019), mengutuk pelelangan itu, menyebutnya “pelanggaran terbuka terhadap hukum internasional,” dan mendesak pemerintah Kanada untuk segera mencabut keputusan itu dan mengembalikan properti tersebut.

Mousavi memperingatkan bahwa jika Ottawa tidak memenuhi tuntutan itu maka Teheran akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengembalikan hak-haknya berdasarkan peraturan internasional.

“Dalam hal ini, pemerintah Kanada akan bertanggung jawab atas semua konsekuensinya,” ujar Mousavi

Dia menegaskan Iran tidak akan berkompromi dengan pemerintah lain dalam berusaha melindungi hak-hak warganya.

Kecaman Iran ini mengemuka setelah Global News melaporkan bahwa Kanada telah memberikan aset Iran senilai $ 30 juta kepada para korban serangan teror.

Baca: Iran Sebut Retorika Kontroversial Netanyahu Hanya Kampanye Politik

Menurut laporan itu, sebuah dokumen yang diajukan di Pengadilan Tinggi Kehormatan Ontario pada Agustus lalu mengungkapkan bahwa para korban telah menerima bagian mereka dari uang yang diperoleh melalui penjualan dua bangunan milik Iran di Ottawa dan Toronto.

Baca: Ihwal Insiden Netanyahu Kabur Mendengar Sirine, Israel Salahkan Iran

Menurut Global News, properti yang digunakan sebagai Pusat Kebudayaan Iran di Ottawa dijual seharga $ 26,5 juta, sedangkan gedung Pusat Studi Iran di Toronto dijual seharga $ 1,85 juta.

Selain $ 28 juta yang diperoleh dari penjualan dua properti itu, bagian sekitar $ 2,6 juta yang disita dari rekening bank Iran juga diberikan kepada keluarga korban. Dokumen itu juga mencantumkan aset lain berupa dua mobil Toyota Camry dan Mazda MPV.

Para penerima ganti rugi itu antara lain keluarga Marla Bennett, seorang warga negara AS yang tewas dalam pemboman yang mengguncang Universitas Ibrani di kota Quds (Yerusalem) pada tahun 2002.

Hamas dan Hizbullah dituduh berada di balik serangan itu, dan pihak keluarga korban menyatakan Iran harus bertanggungjawab karena mendukung kedua kelompok pejuang yang masing-masing berasal dari Palestina dan Libanon itu. Iran membantah terlibat dan berperan apa pun dalam serangan itu. (mm/presstv/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*