Teheran, LiputanIslam.com – Militer Iran menggelar latihan perang di zona pertahanan udara barat dan utara negara itu termasuk Fordow dan Khondab yang menjadi tempat pengayaan uranium dan fasilitas air berat.
Latihan bersandi Eqtedar (kekuatan) itu dimulai pada hari Minggu (12/1) di lingkungan medan perang yang benar-benar nyata di mana pasukan Pertahanan Udara Angkatan Bersenjata memainkan peran utama di bawah komando jaringan pertahanan udara terpadu.
Latihan ini menampilkan misi ofensif dan defensif dengan rudal, radar, peperangan elektronik, intelijen elektronik dan unit pengintaian, serta sistem pengecohan Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Bersenjata, bersama dengan pesawat berawak dan nirawak Angkatan Udara. Dalam latihan ini Pasukan Pertahanan Udara akan mempertahankan lokasi kritis terhadap serangan udara dan rudal yang disimulasikan.
Mereka juga akan melakukan operasi pengintaian, identifikasi, intersepsi, dan pertempuran melawan musuh tiruan dan menangkis serangan ofensif.
Pada tahap pertama latihan, Pasukan Pertahanan Udara menghancurkan pesawat nirawak penyerang menggunakan sistem 15 Khordad dan Talash.
Mereka juga berlatih skenario pertahanan pasif dan gerakan taktis sistem pertahanan, selain menguji mobilitas dan taktik tembakan sistem rudal.
Operasi intersepsi udara berlangsung menggunakan pesawat berawak milik Angkatan Udara.
Latihan ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas operasional dan kesiapan tempur sistem pertahanan udara terhadap serangan potensial musuh.
Mereka juga berusaha untuk menilai kinerja taktis dan teknis dalam kondisi medan perang, serta praktik pertahanan pasif untuk sistem pertahanan udara.
Latihan tersebut merupakan bagian dari latihan nasional, yang tahap pertamanya dimulai minggu lalu di zona pertahanan udara fasilitas nuklir Natanz di bawah perintah komandan markas pertahanan udara.
Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melakukan pertahanan total di lokasi tersebut “terhadap sejumlah besar ancaman udara dalam kondisi peperangan elektronik yang sulit”.
Juru bicara IRGC Ali Mohammad Naeini mengatakan latihan tersebut, yang juga akan mencakup wilayah lain di Iran hingga pertengahan Maret, dilakukan sebagai respons terhadap “ancaman keamanan baru”. Beberapa cabang IRGC, termasuk angkatan laut dan pasukan relawan Basij, juga akan ambil bagian dalam latihan tersebut.
Bulan lalu, situs berita AS Axios melaporkan bahwa penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan telah memberi Presiden Joe Biden sejumlah opsi untuk kemungkinan serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran sebelum 20 Januari, saat Donald Trump menjabat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengecam laporan tersebut, dengan mengatakan ancaman terhadap fasilitas nuklir negara itu merupakan “pelanggaran berat terhadap hukum internasional”.
Anggota pemerintahan Trump yang akan datang telah berjanji untuk melanjutkan kampanye “tekanan maksimum” Trump terhadap Iran. Menurut Jenderal Naeini, sekitar 30 latihan darat, udara, dan laut telah dimulai di enam provinsi barat dan selatan dan akan berlanjut hingga pertengahan Maret.
“Jumlah latihan hampir dua kali lipat tahun ini dibandingkan tahun lalu, sebagai respons terhadap lanskap ancaman yang terus berkembang,” kata Naeini.
“Latihan-latihan ini secara signifikan lebih besar dalam cakupan dan kecanggihannya, yang menampilkan persenjataan baru dan perluasan partisipasi brigade-brigade yang terlibat dalam operasi-operasi realistis,” sambungnya.
Latihan maritim terbesar, menurutnya, akan dilaksanakan di Selat Hormuz, sebuah titik sempit strategis yang dilalui oleh sepertiga pasokan minyak dunia.
“Musuh menunjukkan antusiasme palsu sambil memberikan tafsiran yang salah atas situasi, mencoba menggambarkan Republik Islam sebagai negara yang lemah,” ujar Naeini kepada wartawan.
Dia menambahkan, “Iran telah mempersiapkan diri untuk konflik-konflik yang kompleks dan berskala besar dan tetap yakin dengan kemampuan pencegahannya.”
Pada hari Jumat, 110.000 anggota pasukan Basij berbaris di Teheran.
“Kami telah mempertimbangkan semua kemungkinan skenario dan melakukan latihan-latihan yang realistis dan proporsional. Republik Islam tidak akan memulai perang apa pun di kawasan itu tetapi akan menanggapi dengan tegas setiap ancaman,” pungkasnya. (mm/alalam/presstv)