Teheran, LiputanIslam.com – Teheran bersumpah akan memberikan respon yang “tegas dan pasti” terhadap segala bentuk agresi, ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, di tengah ancaman AS terhadap Iran terkait dukungan Teheran kepada Yaman.
Sedikitnya 53 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, gugur dan 101 lainnya terluka setelah AS melakukan serangan pertama terhadap Yaman sejak Presiden Donald Trump menjabat pada bulan Januari.
AS melancarkan serangan militer skala besar terhadap ibu kota Yaman, Sana’a, dan beberapa provinsi lain di seluruh negeri pada Sabtu malam.
“Kami akan menanggapi dengan tegas setiap agresi terhadap integritas teritorial Iran dan keamanan serta kepentingan nasionalnya. Tidak ada keraguan tentang ini,” kata Esmaeil Baghaei kepada wartawan pada konferensi pers mingguannya pada hari Senin (17/3).
Dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu lalu, Trump mengatakan AS meminta Iran “bertanggung jawab sepenuhnya” atas dukungannya terhadap gerakan perlawanan Ansarullah di Yaman.
Dia mengatakan dukungan terhadap gerakan tersebut harus “segera diakhiri,” dan memperingatkan bahwa Washington akan meminta pertanggungjawaban penuh dari Teheran.
Baghaei menambahkan bahwa pemerintah dan rakyat Yaman secara independen membuat keputusan tentang langkah-langkah yang mereka anggap perlu untuk mendukung perlawanan sah rakyat Palestina.
Dia mengutuk agresi AS terhadap Yaman dan menyebutnya pelanggaran terhadap semua prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional.
Juru bicara Iran meminta masyarakat internasional, negara-negara Muslim, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil tindakan cepat terkait serangan AS.
Menanggapi pertanyaan tentang surat Trump kepada Iran, Baghaei mengatakan AS mengirimkan pesan yang “sangat kontradiktif”.
“Bersamaan dengan pernyataan kesiapannya untuk berunding, AS memberlakukan sanksi yang luas pada berbagai sektor komersial dan manufaktur Iran,” katanya.
Menurutnya, kata-kata Washington tidak sesuai dengan tindakannya, mengacu pada sanksi terbaru Kementerian Keuangan AS terhadap Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad dan beberapa kapal yang merupakan bagian dari armada yang terlibat dalam ekspor minyak mentah Iran.
Juru bicara Kemlu Iran menegaskan kembali bahwa AS telah gagal untuk tetap berkomitmen pada kewajibannya selama 10-15 tahun terakhir, dan bahwa Washington mengangkat isu perundingan hanya sebagai sarana politik dan perang psikologis, bukan sebagai cara untuk menyelesaikan perselisihan.
“Tanggapan kami jelas,” tegas Baghaei, sembari menyebutkan bahwa Iran saat ini tidak berniat untuk mempublikasikan rincian surat Trump, menepis spekulasi dalam hal ini.
Dia menambahkan bahwa Iran akan menanggapi surat tersebut melalui saluran yang tepat setelah menyelesaikan peninjauan.
Dia menolak adanya hubungan apa pun antara surat Trump dan kunjungan singkat “yang telah direncanakan sebelumnya” oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Oman pada hari Minggu. (mm/presstv)