Teheran, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengutuk agresi AS dan Inggris di sejumlah negara di Timteng, termasuk Yaman, dan memperingatkan keduanya untuk tidak memancing kemarahan negara-negara kawasan ini.
Dalam postingan di akun X-nya pada hari Minggu (4/2), Amir-Abdollahian menyatakan negaranya mengecam gelombang serangan udara terbaru AS dan Inggris di Yaman, Irak dan Suriah.
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron, dia menegaskan bahwa “keberlanjutan perang bukanlah solusi,” mengacu pada pembicaraan kedua belah pihak di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia ke-54 di Davos, Swiss, pada bulan Januari.
“Jangan menguji kemarahan kawasan ini. Kami menganggap keamanan Irak, Suriah, Yaman dan Palestina (Gaza dan Tepi Barat) sebagai keamanan di kawasan ini,” katanya.
Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat mengumumkan bahwa pasukannya telah menyerang lebih dari 85 sasaran “dengan banyak pesawat” selama serangan semalam di daerah-daerah di Irak dan Suriah.
Media pemerintah Suriah melaporkan bahwa agresi AS menyasar posisi-posisi di provinsi Deir Elzor dan kota Bukamal dekat perbatasan Irak, namun tidak memberikan rincian mengenai tingkat kerusakan dan jumlah pasti korban.
14 orang gugur, termasuk warga sipil, dan 25 orang terluka dalam serangan udara AS di Irak, menurut kantor Perdana Menteri Mohammed Shia Al-Sudani.
Dalam serangan gencar lainnya di wilayah Yaman, AS dan Inggris pada Sabtu malam melancarkan puluhan serangan udara di provinsi Sanaa, Hudaydah , Saada dan beberapa lainnya.
Pentagon mengklaim serangan itu menargetkan 13 lokasi di seluruh Yaman dan mengenai fasilitas penyimpanan senjata, sistem rudal, dan peluncur yang digunakan Angkatan Bersenjata Yaman dan Ansarullah untuk menyerang kapal-kapal yang terikat dengan Israel di Laut Merah untuk mendukung warga Palestina di Jalur Gaza. (mm/presstv)