Imran Khan Akhirnya Digulingkan, Otoritas Pakistan Tingkatkan Status Siaga

0
404

Islamabad, LiputanIslam.com –  Ketua majelis rendah Pakistan menyatakan bahwa Perdana Menteri Imran Khan mendapat mosi tidak percaya dalam pemungutan suara di parlemen Sabtu (9/4), setelah beberapa mitra koalisi yang berkuasa meninggalkannya dan menyalahkannya atas kondisi ekonomi negara yang memburuk serta kegagalannya memenuhi janji pemilu.

Hasil pemungutan suara diumumkan menjelang pukul 01.00 waktu setempat setelah anggota partai Khan memblokir pemungutan suara beberapa kali, sembari menyatakan ada rencana asing untuk menggulingkan bintang kriket yang beralih menjadi politisi tersebut.

Ketua majelis rendah  menjelaskan bahwa partai oposisi berhasil mengumpulkan 174 suara di parlemen yang beranggotakan 342 orang untuk mendukung mosi tidak percaya yang membuat suara mereka menjadi mayoritas. Hanya beberapa wakil dari partai berkuasa Khan yang menghadiri pemungutan suara.

Dua sumber mengatakan bahwa sebelumnya pada hari Sabtu panglima angkatan bersenjata Pakistan, Jenderal Qamar Javed Bajwa, bertemu dengan Khan, setelah kritik meningkat atas penundaan pemungutan suara di Parlemen.

Imran Khan, 69 tahun, naik ke tampuk kekuasaan pada 2018 dengan dukungan militer. Namun dia baru-baru ini kehilangan mayoritas parlemennya ketika sekutunya mundur dari pemerintahan koalisinya.

Partai-partai oposisi menganggapnya gagal menggairahkan kembali ekonomi yang terdampak pandemi COVID-19, belum memenuhi janji pemberantasan korupsi dan menjadikan Pakistan negara makmur yang disegani di panggung dunia.

Penggulingan Khan menambah rekor instabilitas politik Pakistan karena tidak ada perdana menteri yang menyelesaikan masa jabatan penuhnya sejak negara ini merdeka pada 1947, meskipun Khan menjadi orang pertama yang digulingkan dengan mosi tidak percaya.

Pihak berwenang Pakistan dilaporkan meningkatkan status siaga, dan para menteri dilarang bepergian.

Sebelum ditunda, pemungutan suara parlemen dijadwalkan pada hari Sabtu, dan pemungutan suara yang diajukan oleh pemimpin oposisi Shahbaz Sharif pada item keempat dalam agenda hari itu, beberapa hari setelah Khan mencegah upaya serupa.

Khan mencoba untuk menggagalkan mosi tidak percaya pekan lalu dan membubarkan parlemen, tapi Mahkamah Agung Pakistan pada hari Kamis memerintahkan pemungutan suara dilakukan pada hari Sabtu.

Sebelumnya, Khan bersumpah untuk “berjuang” melawan segala upaya untuk menggulingkannya, dalam perkembangan terakhir dalam krisis yang mengancam stabilitas politik dan ekonomi negara Asia Selatan berpenduduk 220 juta orang ini.

Mahkamah Agung pada hari Kamis memutuskan bahwa Khan melanggar konstitusi pada hari Minggu lalu dengan menghalangi mosi tidak percaya yang dijadwalkan pada hari Minggu, membubarkan parlemen dan menyerukan pemilihan awal. Pengadilan memerintahkan parlemen untuk bersidang kembali.

Kini, pemimpin oposisi Shahbaz Sharif adalah orang yang paling berpeluang memimpin Pakistan, negara bersenjata nuklir, berpenduduk 220 juta orang, dan telah diperintah oleh militer selama setengah sejarahnya.

Shahbaz, 70, adalah adik dari mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif, yang memegang jabatan itu tiga kali, dan dikenal karena keahlian manajemennya.  (mm/raialyoum)

DISKUSI: