Teheran, LiputanIslam.com – Hizbullah mengumumkan rincian prosesi pemakaman untuk dua sekretaris jenderalnya, Hassan Nasrallah dan Hashem Safieddine, yang gugur akibat serangan Israel pada tahun lalu.
Koordinator Komite Tinggi Upacara Pemakaman, Ali Daher, dalam konferensi pers mengatakan bahwa prosesi itu akan diselenggarakan pada hari Minggu, 23 Februari, di Camille Chamoun Sports City di Beirut, pukul 13.00 waktu setempat (11:00 GMT).
Daher menambahkan bahwa prosesi pemakaman akan berlangsung sekitar satu jam, dan akan dimulai dengan pembacaan Al-Qur’an, diikuti dengan pemutaran lagu kebangsaan Lebanon dan lagu kebangsaan Hizbullah, sebelum peti jenazah Nasrallah dan Safi al-Din dimasukkan ke kendaraan khusus.
Setelah itu, Sekjen Hizbullah, Syeikh Naim Qasim, akan menyampaikan pidato penghormatan terakhir, diikuti dengan salat jenazah, dan kemudian pengantaran jenazah menuju pemakaman.
Daher mencontohkan, sekitar 79 negara dari seluruh dunia akan turut serta dalam upacara pemakaman tersebut, baik melalui delegasi resmi maupun delegasi rakyat.
Pejabat Hizbullah tidak menyebutkan lokasi pemakaman, tetapi Syeikh Naim Qassem mengungkapkan dalam pidato yang disiarkan televisi sebelumnya bahwa Syahid Nasrallah akan dimakamkan di sebidang tanah dekat jalan bandara di pinggiran selatan Beirut, sementara Hashem Safieddine akan dimakamkan di kampung halamannya di Lebanon selatan.
Sayid Nasrallah gugur pada tanggal 27 September 2024 akibat serangkaian serangan udara Israel yang menyasar pinggiran selatan Beirut, sedangkan Sayid Safieddine gugur pada tanggal 3 Oktober tahun yang sama akibat serangkaian serangan besar Israel lainnya.
Pada tanggal 27 November 2024, perjanjian gencatan senjata mengakhiri kontak senjata antara tentara Israel dan pejuang Hizbullah. Kontak senjata itu sendiri bermula pada tanggal 8 Oktober 2023, dan kemudian berubah menjadi perang skala penuh pada tanggal 23 September.
Agresi Israel terhadap Lebanon menggugurkan 4.104 orang dan melukai 16.890 orang, termasuk sejumlah besar anak-anak dan wanita, serta menyebabkan sekitar 1.400.000 orang mengungsi. Sebagian besar korban dan pengungsi tercatat setelah eskalasi agresi pada tanggal 23 September. (mm/raialyoum)