Beirut, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon menyatakan bahwa tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza “dengan memberlakukan syarat-syarat kubu perlawanan dan tanpa mengorbankan hak-hak rakyat Palestina, merupakan kemenangan politik yang ditambahkan pada pencapaian militer.”
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Minggu pagi, setelah genosida yang dilakukan oleh Israel, dengan dukungan AS, di Gaza selama sekitar 16 bulan.
“Perjanjian Gaza menunjukkan bahwa rezim pendudukan tidak dapat mencapai tujuannya dengan kekerasan atau mematahkan tekad dan keteguhan rakyat Palestina,” ungkap Hizbullah dalam sebuah pernyataannya pada hari Senin (20/1), sembari menyampaikan ucapan selamat kepada bangsa Palestina dan kepada semua elemen perlawanan yang telah mendukung Gaza, serta kepada seluruh umat Islam dan kaum merdeka dunia atas kemenangan Palestina ini.
Hizbullah menilai kemenangan ini hasil dari keteguhan bangsa Palestina selama lebih dari 16 bulan sejak dimulainya Badai Al-Aqsa, yang merupakan contoh yang harus diikuti dalam menghadapi agresi Zionis-AS.
Hizbullah menyatakan, “Kemenangan bersejarah ini kembali menegaskan bahwa perlawanan merupakan satu-satunya pilihan yang mampu menghalangi rezim pendudukan dan menggagalkan rencana agresifnya, dan merupakan kekalahan strategis baru bagi Zionis dan para pendukungnya.”
Hizbullah menambahkan, “Era pemaksaan perintah sudah berakhir, dan kehendak rakyat tidak dapat dipatahkan, karena lebih kuat daripada semua mesin perang dan terorisme Zionis dan Amerika… Perlawanan Palestina selama pertempuran ini membuktikan bahwa mereka kuat dan mampu mematahkan arogansi dan tirani Zionis, terlepas dari semua kejahatan dan agresi brutalnya.”
Menurut Hizbullah, perlawanan Palestina juga membuktikan bahwa “entitas sementara ini (Israel) adalah entitas rapuh yang tidak memiliki kemampuan untuk bertahan dan terus berlanjut, dan tidak akan menikmati keamanan atau stabilitas selama mereka terus melakukan “agresi terhadap bangsa, tanah, dan kesucian kita”.
Hizbullah juga menegaskan, “AS adalah mitra penuh dalam kejahatan dan genosida Israel terhadap rakyat Palestina.”
Mengenai peran Hizbullah sendiri dalam membela Palestina, kelompok pejuang Lebanon ini menyatakan pihaknya telah mempersembahkan “miliknya yang termahal”, yaitu jiwa-jiwa sekjennya, Sayyid Hassan Nasrallah, wasekjennya, Sayyid Hashem Safiyuddin, dan beberapa petinggi serta banyak pejuang Hizbullah lainnya.
Sejak 27 November 2024, gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel diberlakukan sehingga mengakhiri kontak senjata antara keduanya. Kontak senjata dengan skala terbatas pecah sejak 8 Oktober 2023, tapi kemudian berubah menjadi perang skala besar pada 23 September 2024 hingga mengakibatkan 4.068 gugur dan 16.670 terluka, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan kaum wanita, serta menyebabkan pengungsian sekitar 1,4 juta orang.
Dalam kurun waktu sejak 7 Oktober 2023 hingga 19 Januari 2025, genosida Israel di Gaza telah menjatuhkan korban gugur dan luka sebanyak lebih dari 157.000 warga Palestina, yang sebagian besarnya juga anak-anak dan kaum wanita, dan menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang. (mm/raialyoum)