Beirut, LiputanIslam.com – Hizbullah Lebanon dan negara-negara Arab mengutuk serangan Israel terhadap Suriah, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan wilayah pendudukan Golan sudah menjadi milik Israel untuk selamanya.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (9/12), Hizbullah menyebut Israel berusaha “menduduki lebih banyak wilayah di Dataran Tinggi Golan” serta “menyerang dan menghancurkan kemampuan pertahanan negara Suriah” setelah tergulingnya pemerintahBashar al-Assad di Suriah.
Hizbullah juga menegaskan dukungannya kepada rakyat Suriah serta menekankan keharusan terjaganya integritas Suriah.
“Kami menegaskan keberpihakan kami pada Suriah dan rakyatnya, dan menekankan keharusan penjagaan kesatuan wilayah dan bangsa Suriah,” ungkap Hizbullah.
Di hari yang sama, negara-negara Arab menyatakan penolakan mereka terhadap perebutan zona penyangga Suriah oleh Israel.
Penolakan itu dituangkan dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Qatar, Kuwait, Yordania, Irak, dan Liga Arab, sementara Radio Militer Israel menyatakan bahwa pasukan militer telah melakukan serangan darat ke zona penyangga Suriah, sambil terus melakukan serangan udara besar-besaran di berbagai lokasi di Suriah.
Pada hari Minggu, Tel Aviv mengumumkan runtuhnya Perjanjian Pemisahan Pasukan dengan Suriah tahun 1974, dan pengerahan tentara Israel di zona penyangga demiliterisasi di Dataran Tinggi Golan Suriah, wilayah yang sebagian besar telah mereka duduki sejak tahun 1967.
Pada dini hari Minggu, pasukan oposisi Suriah memasuki Damaskus, ibu kota Suriah, dan mengambil kendali setelah tentara pemerintah Suriah menarik diri dari lembaga-lembaga publik dan jalan-jalan, sehingga mengakhiri 61 tahun pemerintahan Partai Baath dan 53 tahun pemerintahan keluarga al-Assad.
Pertempuran dimulai antara tentara Suriah dan pasukan oposisi pada 27 November, di provinsi Aleppo dan Idlib, yang dikuasai faksi tersebut, kemudian kota Hama, Daraa, Suwayda, Homs, dan akhirnya Damaskus.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin menyatakan bahwa bagian dari Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki dan dianeksasi oleh negaranya akan tetap menjadi milik Israel “selamanya,” setelah tergulingnya pemerintahan Bashar al-Assad.
Netanyahu mengatakan pada konferensi pers di Al-Quds (Yerusalem) bahwa ia berterima kasih kepada Presiden terpilih AS Donald Trump atas pengakuannya terhadap proses aneksasi Golan selama masa jabatan pertamanya antara tahun 2017 dan 2021, dan menambahkan bahwa “Golan akan menjadi bagian dari Negara Israel selamanya.”
Dia juga mengaku tidak akan menghentikan perang di Jalur Gaza “sekarang”, sambil melanjutkan upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas.
“Jika kita menghentikan perang ini sekarang, Hamas akan kembali, bangkit, membangun kembali dirinya, dan menyerang kita lagi. Inilah yang tidak ingin kami kembalikan,” tegasnya.
Netanyahu berjanji untuk melenyapkan gerakan Palestina menyusul serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilancarkannya terhadap Israel selatan pada 7 Oktober 2023. (mm/raialyoum)