Beirut, LiputanIslam.com – Sumber-sumber yang mengetahui cara berpikir Hizbullah mengatakan bahwa kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini bertindak hati-hati sejak pecahnya perang antara Gaza dan Israel, namun bersiaga perang dengan mengerahkan pasukan khusus dan mempersiapkan rudalnya sebagai persiapan menghadapi kemungkinan perang besar.
Selama ini, Hizbullah tampak mencoba memecah konsentrasi pasukan Israel dengan serangan di perbatasan Lebanon namun tidak membuka front yang besar.
Dikutip Rai Al-Youm, Rabu (11/10), sumber-sumber itu mengatakan bahwa kini ketegangan menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya sejak perang dengan Israel pada tahun 2006, terlebih setelah tiga pejuang Hizbullah terbunuh oleh serangan Israel beberapa hari lalu.
Hamas dan Jihad Islam, sekutu Hizbullah di Palestina, juga turut menyerang Israel dari Lebanon untuk pertama kalinya, termasuk infiltrasi lintas batas pada hari Senin yang menurut tentara Israel menewaskan tiga tentaranya dan dua pria bersenjata.
Hizbullah tidak mengesampingkan perang, namun sumber-sumber itu mengatakan bahwa pergerakan Hizbullah sejauh ini tampak dibatasi cakupannya sehingga tidak menyebar secara signifikan ke Lebanon, sekaligus mengusik pasukan Israel di Israel utara.
Salah satu sumber mengatakan bahwa Hizbullah melancarkan serangan di sana-sini dan menanggapi tembakan Israel di Lebanon sambil memantau dengan cermat situasi di Jalur Gaza dan selatan.
Sumber tersebut mengatakan bahwa Hizbullah menangani masalah ini “hari demi hari.”
Jika perang besar pecah antara Israel dan Hizbullah maka tentara Israel terpaksa berperang di dua front, pada saat Israel ingin menghancurkan Hamas di Gaza.
Hamas memicu perang pada hari Sabtu lalu setelah militannya menyusup dari Gaza ke Israel dan menewaskan 1.200 orang Israel serta menawan puluhan lainnya. Di pihak lain, Israel membombardir Gaza hingga menjatuhkan korban gugur sedikitnya 1.100 warga Palestina.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mendirikan Hizbullah pada tahun 1982 untuk melawan pasukan Israel yang menginvasi Lebanon. Kelompok pejuang Lebanon ini menjadi model bagi kelompok-kelompok lain yang didukung Iran, termasuk Hamas dan Jihad Islam.
Di pihak lain, Amerika Serikat (AS) memperingatkan Iran agar tidak melakukan campur tangan. AS mengirim kelompok kapal induk untuk berada di dekat Israel di Mediterania timur sebagai “pesan yang kuat” untuk mencegah meluasnya konflik.
Seorang politisi senior Lebanon dan sumber PBB mengatakan bahwa Duta Besar AS untuk Lebanon dan pejabat Barat lainnya memberi tahu pejabat negara Lebanon bahwa Hizbullah tidak boleh terlibat dalam perang tersebut.
Sementara itu, Muhannad Haj Ali dari Carnegie Middle East Center mengatakan langkah Hizbullah selanjutnya akan diputuskan berdasarkan rencana Israel untuk melancarkan serangan darat di Gaza.
Dia menambahkan bahwa kemungkinan Hamas menerima pukulan fatal “akan mendorong Hizbullah untuk melakukan intervensi terhadap faksi-faksi Palestina di Lebanon dan memperburuk kemungkinan tidak terkendalinya keadaan.”
Hizbullah mengatakan pihaknya melakukan kontak langsung dengan para pejuang Palestina di Gaza dan menyatakan dukungannya kepada mereka.
Pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah, yang kerap berpidato panas tentang Israel, sejauh ini belum berbicara sejak para pejuang Gaza mulai menyerang Israel pada hari Sabtu.
Beberapa sumber memastikan bahwa dia memonitoring secara intensif dari waktu ke waktu perkembangan situasi di Gaza dan Lebanon selatan. (mm/raialyoum)
Baca juga: