Beirut, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Hizbullah menyalakan lampu proyektor bergambar Sayyid Hassan Nasrallah dan Sayyid Hashem Safieddine pada Rouche Rock, tebing ikonik kawasan pantai Beirut, ibu kota Lebanon, pada Kamis malam (25/9), meski ada yang berusaha melarangnya.
Hal itu dilakukan untuk menandai peringatan tahun pertama kesyahidan dua pemimpin Hizbullah tersebut. Penyalaan lampu sorot tersebut berlangsung di tengah kerumunan besar umat yang datang berbondong-bondong dari berbagai wilayah Lebanon ke lokasi Raouche Rock untuk mengikuti peringatan tersebut.
Departemen hubungan media Hizbullah sebelumnya telah menyerukan pertemuan di wilayah Raouche Rock, yang akan menampilkan atraksi maritim dan penyalaan proyektor bergambar bendera Lebanon sebelum kemudian gambar Sayyid Nasrallah dan Sayyid Safieddine pada Raouche Rock, sebuah landmark alam dan obyek wisata terkenal di pesisir barat Beirut.
Rakyat Lebanon memperingati satu tahun kesyahidan Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah, yang gugur akibat serangan Israel pada 27 September 2024, dan penggantinya, Hashem Safieddine, yang gugur pada 3 Oktober 2024 akibat serangan serupa.
Penyalaan Tebing Raouche dengan gambar Nasrallah dan Safieddine memicu kontroversi di negara yang terpecah secara politik tersebut.
Perdana Menteri Nawaf Salam mengeluarkan surat edaran pada hari Senin yang mengimbau pemerintah “melarang keras penggunaan” properti publik dan arkeologi “sebelum ada izin.
Sebuah sumber pemerintah mengatakan kepada AFP bahwa Hizbullah “memperoleh izin” untuk mengadakan acara di sekitar tebing yang dikitari air laut tersebut, namun tanpa penyalaan proyektor.
Abdul Samhat, seorang pekerja pengiriman berusia 38 tahun, peserta acara tersebut mengatakan, “Tujuan kami bukan untuk memasang gambar di atas batu. Kami hanya ingin membuktikan bahwa sebagai kelompok perlawanan, kami berjuang dari semua sisi, dari dalam sebelum dari luar. Negara harus memperhatikan rakyat di sini, dan tidak meminggirkan kubu perlawanan.”
Pengacara Samar Ammar, 45 tahun, saat berpartisipasi dalam pertemuan tersebut mengatakan, “Hari ini, kami datang untuk memperbarui janji kami kepada Sayyed Hassan. Saya ingin memberi tahu rakyat Lebanon, kita harus bergandengan tangan dan bersatu karena ini adalah negara kita, dan kita sepakat bahwa musuh kita satu: Israel.”
Israel dan Hizbullah saling serang lintas batas selama sekitar satu tahun setelah pecahnya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Pada akhir September 2024, konfrontasi tersebut berubah menjadi perang besar yang berlangsung hampir dua bulan dan berakhir dengan gencatan senjata pada bulan November.
Meskipun gencatan senjata telah tercapai, Israel terus melancarkan serangan di Lebanon, yang diklaimnya menargetkan fasilitas dan anggota Hizbullah.
Kesyahidan Nasrallah merupakan pukulan bagi Hizbullah, yang sebelumnya merupakan kekuatan politik dan militer paling berpengaruh di Lebanon. Dalam beberapa bulan terakhir, Hizbullah mendapat tekanan tambahan untuk menyerahkan senjatanya kepada pemerintah, dan Hizbullah menolaknya mentah-mentah. (mm/almayadeen/ry)