Teheran, LiputanIslam.com – Penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap kecelakaan helikopter yang menggugurkan Presiden Iran Sayid Ebrahim Raeisi dan beberapa pejabat lainnya telah mengesampingkan adanya faktor sabotase di balik insiden tragis tersebut.
Laporan kedua dari Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, yang menyelidiki kecelakaan tersebut, mengatakan tidak ada bukti bahwa helikopter telah disabotase selama penerbangan.
“Mempertimbangkan pengambilan sampel dan pengujian yang dilakukan terhadap sisa-sisa dan bagian-bagian helikopter serta pola penyebarannya dan jarak bagian-bagian yang terpisah dari badan utama, maka terjadinya ledakan akibat sabotase selama penerbangan dan beberapa saat sebelum dampaknya di lereng gunung dikesampingkan,” bunyi laporan itu.
Laporan itu juga menyatakan “tidak ada jejak peperangan elektronik yang terlihat pada helikopter yang jatuh itu.”
Disebutkan bahwa pemeriksaan dokumen terkait dengan pemeliharaan dan perbaikan helikopter yang jatuh tidak menunjukkan adanya masalah yang dapat menyebabkan kecelakaan tersebut.
Laporan tersebut juga mengesampingkan adanya kerusakan sistem komunikasi atau gangguan frekuensi yang menghalangi helikopter kepresidenan menghubungi grup penerbangan, namun pemeriksaan, pengujian dan analisis data akan terus dilakukan hingga penyebab utama insiden itu ditemukan.
Staf Umum Angkatan Bersenjata dalam laporan awalnya mengenai insiden tersebut pada tanggal 24 Mei menyatakan pada puing-puing helikopter tidak terdapat lubang peluru atau tanda-tanda dampak serupa.
Presiden Sayid Raisi bersama dengan menteri luar negeri Hossein Amir-Abdollahian dan pejabat lainnya gugur setelah helikopter yang membawa mereka terhempas di area pegunungan pada 19 Mei.
Lokasi kecelakaan ditemukan oleh drone Iran pada pukul 05:00 waktu setempat pada tanggal 20 Mei, dan dicapai oleh tim pencari tidak lama kemudian.
Alm. Sayid Raisi dimakamkan di komplek makam suci Imam Ali Al-Ridha ra di kota Masyhad di bagian timur laut Iran. (mm/presstv)