Gaza, LiputanIslam.com – Gerakan perlawanan Islam Palestina, Hamas, menyambut baik rencana rekonstruksi Gaza yang diadopsi Mesir pada pertemuan puncak darurat Liga Arab di Kairo, yang bertujuan untuk menghindari penggusuran warga Palestina dari Jalur Gaza.
Dalam sebuah pernyataan, Hamas mengatakan bahwa pertemuan puncak Kairo menandai langkah signifikan menuju keselarasan Arab dan umat Islam dengan perjuangan Palestina, terutama di tengah serangan Israel yang terus berlanjut dan upaya penggusuran di Gaza, Tepi Barat, dan al-Quds.
Kelompok itu memuji para pemimpin Arab atas penentangan mereka terhadap upaya penggusuran warga Palestina atau perusakan perjuangan nasional Palestina, dan menyebutnya sebagai pesan bersejarah bahwa Nakba kedua tidak akan dibiarkan terjadi.
Mereka menyambut baik seruan pemboikotan Israel secara komersial dan politik, dan menilainya sebagai “langkah strategis yang sangat efektif untuk mengisolasi Israel dan menekannya agar mematuhi hukum internasional.”
Hamas mendesak semua langkah untuk memastikan keberhasilan rencana rekonstruksi.
Gerakan perlawanan yang berpusat di Gaza itu juga memuji upaya Mesir mempersiapkan konferensi rekonstruksi internasional dan mendukung pembentukan komite dukungan masyarakat untuk mengawasi bantuan, rekonstruksi, dan tata kelola Gaza sebagai bagian dari negara Palestina.
Hamas menekankan perlunya melaksanakan rencana rekonstruksi, memastikan pengiriman bantuan yang mendesak, dan bekerja untuk memperkuat gencatan senjata dan memastikan bahwa ketentuan-ketentuannya diikuti sebagaimana disepakati.
Para pemimpin Arab pada hari Selasa menyetujui rencana rekonstruksi Mesir untuk Gaza, yang menegaskan penolakan pemindahan warga Palestina dari tanah mereka “dengan dalih atau keadaan apa pun.”
Pertemuan puncak tersebut mencanangkan penugasan komite hukum Arab untuk mempelajari klasifikasi penggusuran warga Palestina sebagai bagian dari kejahatan genosida.
Mereka mengecam keputusan Israel belakangan ini untuk menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dan menutup penyeberangan yang digunakan untuk upaya bantuan, dengan menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan “pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata, hukum internasional, dan hukum humaniter internasional.”
Setelah pertemuan puncak tersebut, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan dalam konferensi pers bahwa Kairo akan mulai mempromosikan rencana rekonstruksinya secara internasional.
Dia merinci bahwa rencana tersebut mencakup pembangunan pelabuhan laut dan bandara di Jalur Gaza dan daur ulang puing-puing yang ditinggalkan oleh kehancuran di Gaza. (mm/presstv)