Gaza, LiputanIslam.com – Juru bicara Brigade al-Qassam, Abu Obeida, pada hari Kamis (30/1), mengkonfirmasi gugurnya komandan tertinggi sayap bersenjata Hamas tersebut, Mohammad al-Deif, setelah militer Israel mengaku berhasil membunuhnya dalam serangan udara pada bulan Juli 2024.
Abu Obeida menyatakan bahwa kesyahidan merupakan kehormatan yang layak tersemat sosok pejuang segigih Al-Daif.
“Ini pantas bagi pemimpin kami Mohammed al-Deif, yang telah membuat musuh kelelahan selama lebih dari 30 tahun,” kata Abu Obeida.
“Demi Allah, bagaimana mungkin Mohammed al-Deif disebutkan dalam sejarah tanpa gelar syahid dan tanpa medali kesyahidan?” sambungnya.
Al-Deif adalah salah satu pendiri Brigade Qassam pada 1990-an. Dia memimpin pasukan tersebut selama lebih dari 20 tahun, dan dilaporkan telah merencanakan serangan yang menyebabkan kematian puluhan warga Israel. Dia juga diyakini telah mengembangkan jaringan terowongan dan keahliannya dalam membuat bom.
Pada pagi hari tanggal 7 Oktober 2023, Hamas mengeluarkan rekaman suara langka al-Deif yang mengumumkan operasi “Badai Al-Aqsa”, yang mengisyaratkan bahwa serangan yang dipimpin Hamas hari itu di Israel selatan merupakan tanggapan terhadap serangan Israel di Masjid Al-Aqsa di kota al-Quds (Yerussalem), situs tersuci ketiga bagi umat Islam.
Pada bulan November, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) memutuskan mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk al-Daif “atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang”.
ICC juga mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan “kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang” atas tindakan Israel dalam perang di Gaza.
Abu Obeida juga mengkonfirmasi kesyahidan wakil komandan militer Marwan Issa, sebagaimana kesyahidan sejumlah komandan lainnya, termasuk Ghazi Abu Tamaa, komandan persenjataan dan layanan tempur; Raed Thabet, komandan pekerja dan kepala unit pasokan; dan Rafei Salama, komandan Brigade Khan Younis.
Israel mengataku telah membunuh Issa pada bulan Maret. Saat itu, pejabat senior Hamas mengatakan bahwa biro politik kelompok tersebut belum menerima bukti kematian Issa. (mm/aljazeera)