Istanbul, LiputanIslam.com – Hamas dan Jihad Islam menegaskan bahwa negosiasi tidak langsung dengan Israel harus menjurus pada diakhirinya perang pemusnahan di Gaza, penarikan penuh Israel dari Jalur Gaza, pembukaan penyeberangan, dan rekonstruksi.
Hal itu diungkap dalam sebuah pertemuan yang diadakan oleh delegasi dari pimpinan kedua gerakan tersebut, menurut pernyataan Hamas, tanpa menyebutkan lokasi pertemuan.
“Sebuah delegasi dari pimpinan Hamas, yang diketuai oleh Mujahid Muhammad Darwish, kepala dewan pimpinan, bertemu dengan delegasi dari gerakan Jihad Islam, yang dipimpin oleh Sekjen gerakan tersebut, Ziad al-Nakhala,” bunyi pernyataan itu, Ahad (13/7).
Hamas menambahkan, “Kedua delegasi membicarakan pengorbanan besar rakyat kami dan penderitaan manusia akibat perang pemusnahan dan kelaparan, serta pembantaian yang dilakukan setiap hari oleh musuh, Zionis, dengan tujuan melaksanakan rencana jahat dan berbahaya mereka terhadap rakyat kami dan masa depan mereka.”
Menurut pernyataan tersebut, kedua delegasi juga menyadari “dengan bangga dan kagum atas aksi-aksi heroik para pejuang Palestina serta keberanian, ketegasan, dan perjuangan mereka, yang setiap hari menimbulkan kerugian pada barisan tentara musuh.”
Kedua delegasi membahas “perkembangan dalam negosiasi yang sedang berlangsung (di Qatar), dan menekankan bahwa setiap negosiasi harus mengarah pada pencapaian tujuan dan aspirasi rakyat kami, terutama diakhirinya perang, penarikan penuh pasukan musuh, pembukaan jalur penyeberangan, dan rekonstruksi.”
Kedua delegasi juga “membahas tanggapan rezim pendudukan (Israel) atas proposal yang diajukan oleh para mediator untuk mencapai gencatan senjata dan cara-cara untuk mengatasinya.”
Hal ini terjadi ketika di Doha, ibu kota Qatar, sedang berlangsung babak baru negosiasi tidak langsung antara delegasi Hamas dan Israel, yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir, dan dengan partisipasi AS, dengan tujuan mencapai gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tawanan. (mm/raialyoum)