Gaza, LiputanIslam.com – Gerakan perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyatakan pihaknya telah mencapai kesepakatan kerangka kerja dengan utusan khusus AS untuk Asia Barat, Steve Witkoff, mengenai gencatan senjata permanen di Gaza, di tengah upaya signifikan Hamas untuk mengakhiri agresi brutal Israel di wilayah yang terkepung tersebut.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (28/5), Hamas mengatakan kesepakatan itu akan “mencapai gencatan senjata permanen, penarikan penuh pasukan pendudukan dari Jalur Gaza, penyaluran bantuan, dan pembentukan komite profesional pengelolaan urusan di jalur itu segera setelah pengumuman kesepakatan.”
Kesepakatan itu juga akan mencakup pembebasan 10 tawanan Israel, dan sejumlah mayat yang tidak disebutkan identitasnya, sebagai imbalan atas pembebasan sejumlah tahanan Palestina yang disepakati bersama, menurut pernyataan tersebut.
Hamas juga mengaku sedang menunggu tanggapan akhir terhadap kerangka kerja yang diusulkan.
Israel melancarkan kampanye genosida di Gaza pada 7 Oktober 2023. Sejauh ini, keganasan Israel telah menggugurkan sedikitnya 54.084 warga Palestina di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Pada bulan Januari, Israel terpaksa menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas, setelah gagal dalam mencapai tujuannya, termasuk menumpas gerakan perlawanan Palestina dan pembebasan tawanan.
Tahap gencatan senjata selama 42 hari, yang dirusak oleh pelanggaran berulang Israel, berakhir pada tanggal 1 Maret, tapi Israel menahan diri untuk tidak ikut campur dalam pembicaraan untuk tahap kedua perjanjian tersebut.
Pada tanggal 18 Maret, rezim tersebut melanjutkan serangan di Gaza, yang mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung hampir dua bulan. (mm/presstv)