Gaza, LiputanIslam.com – Hamas telah membebaskan Edan Alexander, seorang warga negara AS-Israel dan seorang tentara lain, karena faksi pejuang Palestina itu berupaya menghidupkan kembali perundingan gencatan senjata dan diakhirnya blokade Israel Jalur Gaza.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) pada Senin malam (12/5) mengonfirmasi bahwa mereka telah memfasilitasi pemindahan tentara tersebut. Sebuah gambar dirilis yang memperlihatkan Alexander bersama anggota Hamas dan seorang pejabat Palang Merah.
Hamas mengatakan telah membebaskan Alexander sebagai isyarat itikad baik terhadap Presiden AS Donald Trump, yang sedang mengunjungi negara-negara Teluk Arab minggu ini.
Pertempuran sempat berhenti untuk memungkinkan penyerahan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan mengizinkan perjalanan yang aman untuk pembebasan tersebut.
“Edan Alexander, sandera Amerika yang diduga tewas, akan dibebaskan oleh Hamas. Berita bagus!” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Dalam sebuah pernyataan, Presiden ICRC Mirjana Spoljaric menyambut baik pembebasan Alexander sambil menyerukan gencatan senjata yang langgeng di Gaza.
Sementara itu, sebuah saluran 13 Israel pada hari Senin mengungkapkan bahwa ketegangan antara Israel dan AS meningkat, di tengah kritik yang ditujukan oleh menteri Israel di pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Hal ini terjadi setelah pemerintahan Trump menyetujui Hamas untuk membebaskan tentara Israel-Amerika Idan Alexander, tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan Tel Aviv.
Saluran 13 melaporkan, “Meskipun ada upaya dari kantor Netanyahu (Perdana Menteri Israel) dalam beberapa hari terakhir untuk mengesankan kecerahan hubungan antara Tel Aviv dan Washington, hubungan antara kedua belah pihak justru semakin menegang dari hari ke hari.”
Saluran 13 mengungkap kecaman seorang menteri Israel terhadap Presiden AS Donald Trump mengenai perjanjian dengan Hamas untuk membebaskan tahanan Idan Alexander.
Saluran tersebut menyatakan, “Netanyahu mengadakan pertemuan darurat pada Minggu malam dengan para kepala keamanan dan sejumlah menteri, menyusul pengumuman Presiden Trump tentang kesepakatan dengan Hamas terkait pembebasan tahanan Alexander.”
Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu mengatakan, “Ini adalah cara pemerintah AS untuk memberikan tekanan menuju kesepakatan yang komprehensif.”
Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, yang ekstrem, menanggapi: “Jika mereka melewati kami, kami harus memastikan bahwa tidak ada komitmen atas nama kami terhadap Hamas.” (mm/aljazeera/raialyoum)