Gaza, LiputanIslam.com – Petinggi Hamas, Mahmoud Mardawi, membantah klaim yang dipublikasikan oleh Al-Hadath TV dan sejumlah media lain mengenai kemajuan negosiasi gencatan senjata di Jalur Gaza dan sikap Hamas terkait perlucutan senjata.
Mardawi pada hari Minggu, 5 Oktober 2025, menegaskan bahwa apa yang dipublikasikan tersebut tidak berdasar dan bertujuan untuk mendistorsi situasi serta membingungkan opini publik.
Dia mengimbau media untuk “memeriksa akurasi dan kredibilitas dalam melaporkan pernyataan, dan tidak terpengaruh oleh rumor dan sumber anonim,” dan mendesak semua orang untuk mendapatkan informasi dan pernyataan dari platform resmi Hamas yang terpercaya.
Bantahan ini dinyatakan di tengah kontinyuitas serangan dan pembantaian yang dilakukan tentara pendudukan Israel di Jalur Gaza, meskipun ada seruan gencatan senjata dan antisipasi putaran negosiasi tidak langsung di ibu kota Mesir, Kairo.
Pada 3 Oktober 2025, Hamas mengumumkan persetujuannya untuk “membebaskan semua tawanan Israel, baik yang hidup maupun yang mati, sesuai dengan formula pertukaran yang tercantum dalam proposal Presiden AS Donald Trump, dan dengan syarat bahwa persyaratan lapangan untuk proses pertukaran terpenuhi, yang akan menghasilkan penghentian agresi dan penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza.”
Hamas juga menegaskan kesiapannya untuk segera berunding, melalui para mediator, guna membahas masalah ini secara detail.
Mengenai isu-isu lain yang termasuk dalam proposal Trump terkait masa depan Jalur Gaza dan hak asasi rakyat Palestina, Hamas menyatakan, “Hal ini terkait dengan pendirian nasional yang komprehensif, berdasarkan hukum dan resolusi internasional yang relevan, dan akan dibahas dalam kerangka kerja nasional Palestina yang komprehensif, di mana Hamas akan menjadi bagiannya dan akan berkontribusi secara bertanggung jawab.”
Pernyataan Peserta Gerakan GSF
Jurnalis Maroko Younes Ait Yassin, seorang peserta gerakan Global Sumud Flotilla (GSF) pada hari Minggu mengatakan bahwa para aktivis kemanusiaan GSF yang ditahan oleh Israel saat berlayar menuju Gaza menjadi sasaran “serangan verbal, fisik, dan psikologis” selama penahanan mereka.
Pernyataan itu disampaikan ketika berlangsung sambutan masyarakat di Bandara Casablanca atas kepulangan tiga aktivis Maroko melalui Istanbul, Turki, setelah dibebaskan oleh otoritas Israel.
Sejak Rabu malam, Israel menyita 42 kapal milik GSF saat berlayar di perairan internasional menuju Gaza. Mereka menangkap ratusan aktivis internasional di atas kapal-kapal tersebut dan menggelandang mereka ke Penjara Ketziot (selatan), sebelum mengumumkan dimulainya deportasi mereka pada hari Jumat. (mm/alalam/raialyoum)