Erdogan Mengaku Bisa Bertemu Assad pada Waktunya yang Tepat

0
130

Praha, LiputanIslam.com Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengaku bisa bertemu dengan Presiden Suriah Bashar Assad ketika waktunya yang tepat tiba.

“Sampai sekarang pertemuan demikian tidak ada dalam agenda. Tapi saya tidak bisa mengatakan tidak mungkin bagi saya untuk bertemu dengan Assad,” kata Erdogan pada konferensi pers di sela-sela pertemuan dengan Komunitas Politik Eropa di Praha, ibu kota Ceko, Kamis (7/10).

“Ketika waktu yang tepat tiba, kami juga bisa pergi ke jalan pertemuan dengan Presiden Suriah,” tambahnya, seperti dikutip Daily Sabah.

Reuters menyebutkan bahwa pertemuan antara pejabat Suriah dan Turki dapat mengubah bentuk perang di Suriah yang telah berlangsung satu dekade. Dukungan Turki akan efektif dalam menjaga pemberontak di kamp terakhir mereka di timur laut Suriah, sementara tentara Suriah telah mampu membersihkan bagian lain dari wilayah ini dari kelompok ekstremis dan pemberontak.

Keinginan Erdogan untuk bertemu dengan Bashar al-Assad tidak diungkapkan secara terbuka sebelumnya. Hanya saja,  surat kabar Hurriyet Turki pada Juli lalu menyebutkan bahwa Erdogan dalam pertemuan pribadi dengan anggota Partai Keadilan dan Pembangunan telah menyatakan keinginannya untuk bertemu Bashar Assad.

Menurut Hurriyet, Erdogan dalam pertemuan yang tak terliput media itu mengatakan, “Jika Bashar Assad menghadiri pertemuan Shanghai di Uzbekistan, saya ingin bertemu dengannya. Sayangnya, dia tidak bisa datang ke Uzbekistan untuk saya bisa bertemu dengannya dan menyampaikan kata-kata saya secara pribadi.”

Sebelumnya, beberapa sumber menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah meminta Erdogan dan Assad untuk menghadiri pertemuan di Shanghai.

Bersamaan dengan kabar itu, Reuters juga mengklaim bahwa kepala intelijen Turki Hakan Fidan dan sejawatnya dari Suriah Ali Mamluk bertemu di Damaskus pada beberapa minggu terakhir.

Sebuah sumber Suriah saat itu dalam sebuah wawancara dengan Reuters mengatakan, “Pertemuan belakangan ini, termasuk kunjungan Duta Besar Fidan ke Damaskus pada akhir Agustus, berlangsung selama dua hari. Dalam pertemuan ini, dasar-dasar diletakkan untuk mengadakan pertemuan di tingkat yang lebih tinggi.”

Beberapa pengamat  mengaitkan hasrat Ankara pada perbaikan hubungan Turki-Suriah itu dengan pilpres Turki tahun depan. Menurut mereka, Ankara sedang berusaha untuk melepaskan diri dari persoalan Suriah dan menyelesaikan masalah pengungsi Suriah, yang telah menyebabkan ketidakpuasan banyak orang Turki. Turki ingin memulangkan para pengungsi itu ke Suriah.

Di pihak lain, pemerintah Suriah telah berulang kali mengumumkan bahwa Turki harus mengakhiri pendudukannya atas wilayah Suriah dan berhenti mendukung “kelompok-kelompok teroris”. Damaskus menekankan bahwa “Perjanjian Adana” (1998) adalah kesepakatan terbaik untuk menyelesaikan masalah antara Suriah dan Turki. (mm/ds/fna)

DISKUSI: