Ankara, LiputanIslam.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa negara-negara kawasan Timteng dan sekitarnya, termasuk Turki, tidak akan merasa aman kecuali agresi Israel di Jalur Gaza dihentikan.
“Tidak ada negara di kawasan kami yang akan merasa aman, termasuk Turki, kecuali agresi Israel dihentikan di bawah kepemimpinan Netanyahu,” ungkapnya di Ankara, Selasa (2/7).
“Meningkatnya serangan Israel dan ancaman terhadap Lebanon sangat mengkhawatirkan kami tentang masa depan kawasan ini,” sambungnya.
Erdogan menyebut Israel menerima dukungan militer, diplomatik dan politik dari negara-negara Barat.
“Selama dukungan Barat terhadap Israel terus berlanjut dan dunia Islam tetap diam, penjahat bernama Netanyahu (Perdana Menteri Israel) akan melanjutkan kebijakan pendudukan dengan mengorbankan kawasan secara keseluruhan,” ujarnya.
Erdogan memastikan bahwa Israel berupaya mencapai “tujuan ekspansionis,” dan bahwa ketegangan dengan Iran serta meningkatnya serangan terhadap Lebanon “membuktikan kekuatiran kami”.
“Saya ingin mengeluarkan peringatan lain. Di hadapan kita ada seorang pembunuh yang tidak memiliki akal dan hati nurani, seorang tawanan dari keserakahannya. Dia bahkan tidak memenuhi kualifikasi terendah sebagai seorang negarawan, dan menghisap darah orang yang tidak bersalah. Dia tidak peduli kepada keamanan warga negaranya demi memperpanjang kehidupan politiknya,” papar Erdogan.
Dia menyatakan bahwa keamanan Ankara tidak dapat dipisahkan dari keamanan Gaza, Al-Quds, Ramallah, Beirut, Amman dan Bagdad, dan bahwa Turki menetapkan prioritasnya berdasarkan hal ini.
Presiden Turki juga mengatakan bahwa “saat ini adalah saat untuk mengaktifkan perdamaian, dialog, dan diplomasi pada tingkat tertinggi,” dan bahwa penting upaya memperkuat landasan dialog timbal balik, “terutama dengan negara-negara yang memiliki geografi dan nasib yang sama. ”
Dia juga menilai bahwa dalam situasi regional dan internasional dewasa, sangatlah penting upaya peningatan solidaritas negara-negara Islam dan pengabaian terhadap perselisihan pendapat. (mm/raialyoum)