Beirut, LiputanIslam.com – Empat warga sipil gugur akibat dua serangan udara Israel di kota Khirbet Selm dan Kfardounine di Lebanon selatan, Selasa (6/1).
Dikutip berita Lebanon, NNA, Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon mengatakan, “Serangan udara Israel di kota Kfardounine di distrik Bint Jbeil menggugurkan dua warga sipil.”
NNA melaporkan, “Serangan udara Israel menyasar sebuah rumah di kota Khirbet Selm, dan menggugurkan dua orang.”
Sebuah drone Israel menjatuhkan granat kejut pada warga sipil Lebanon saat mereka memeriksa rumah mereka yang rusak di lingkungan barat kota Aita al-Shaab.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa serangan Israel yang sedang berlangsung menimbulkan banyak pertanyaan, khususnya mengenai waktunya, yang terjadi menjelang pertemuan “Mekanisme”.
Aoun mengatakan, “Perkembangan ini mencerminkan niat yang jelas untuk menggagalkan upaya yang dilakukan di tingkat lokal, regional, dan internasional untuk menghentikan eskalasi.” Dia mengulangi seruannya untuk memberdayakan “Mekanisme” untuk memenuhi tugas-tugas yang diberikan melalui konsensus pihak-pihak terkait dan penyediaan dukungan internasional yang diperlukan untuk memastikan keberhasilannya dalam menjalankan perannya.
Presiden Lebanon menambahkan bahwa serangan Israel yang terus berlanjut meskipun Lebanon telah menanggapi berbagai upaya untuk meredakan ketegangan. Dia menekankan bahwa serangan-serangan ini merupakan pelanggaran nyata terhadap upaya diplomatik yang dilakukan untuk menjaga stabilitas.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengutuk keras pemboman udara yang menargetkan infrastruktur perumahan, industri, dan perkotaan di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa.
Baghaei menyebut serangan sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB dan hukum internasional” dan menekankan “keharusan menuntut dan menghukum rezim Zionis karena melakukan kejahatan perang.”
Dia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara regional untuk mengambil “tindakan serius” untuk melawan agresi dan “provokasi perang” Israel.
Sembari menyinggung “pelanggaran terus-menerus Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata” selama setahun terakhir, Baghaei menekankan bahwa para penjamin kesepakatan tersebut, yaitu AS, Prancis, dan PBB bertanggung jawab memastikan pelestariannya. (mm/alalam/presstv)