Teheran, LiputanIslam.com – Dua petinggi Iran, Mayjen Yahya Rahim Safavi, Penasihat Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khameneni yang Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran, dan Wapres Mohammad Reza Aref menyatakan tidak tertutup kemungkinan berkobar perang lagi antara Iran dan Israel.
Dalam pernyataannya pada hari Minggu (17/8) Safavi menyebutkan Iran tidak sedang dalam gencatan senjata, melainkan dalam “fase perang,” dan bahwa jeda tempur pun dapat berakhir kapan saja, dan jika ini terjadi maka mungkin tidak ada perang lagi setelahnya.
“Tidak ada protokol atau kesepakatan tertulis antara kami dan Israel, maupun antara kami dan Amerika,” ungkapnya.
Menurut Safavi, Washington dan Tel Aviv percaya bahwa perdamaian dibuat dengan kekuatan, dan ini mengharuskan Iran kuat secara regional dan global.
“Gencatan senjata hanya berarti penghentian sementara permusuhan, yang dapat berlanjut kapan saja,” sambungnya.
Dia juga mengatakan, “Kami, militer, mengembangkan skenario berdasarkan skenario terburuk dan menyiapkan rencana untuk menghadapi skenario terburuk tersebut.”
Dia menekankan urgensi penguatan sistem defensif dan strategi ofensif secara bersamaan, dan ini mencakup kemampuan diplomatik, media, siber, rudal, dan drone. Dia lantas mengatakan bahwa “cara pertahanan terbaik adalah menyerang,” dan bahwa mempersiapkan perang adalah cara terbaik untuk menjamin tegaknya perdamaian.
Senada dengan ini, Wapres Iran Mohammad Reza Aref, pada hari Senin (18/8) memperingatkan bahwa perang dengan Israel dapat berlanjut “kapan saja,” karena gencatan senjata yang telah berlaku sejak akhir Juni mungkin tidak akan berlangsung lama.
“Kita harus siap menghadapi konfrontasi kapan saja,” katanya dalam sebuah pertemuan dengan para akademisi di Teheran.
Pada 13 Juni, Israel mengobarkan perang yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran, dengan menyerang target nuklir dan militer, serta lokasi sipil, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk ilmuwan nuklir dan komandan militer.
Iran merespon dengan serangan rudal dan pesawat nirawak yang diklam oleh Israel hanya menewaskan puluhan orang di Israel.
Amerika Serikat (AS) mengumumkan gencatan senjata pada 24 Juni, dua hari setelah berpartisipasi dalam serangan bersama Israel dan pengeboman fasilitas nuklir Iran. Namun, kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan gencatan senjata resmi.
Negara-negara Barat dan Israel menuding Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang telah dibantah Teheran selama bertahun-tahun.
AS dan Israel telah mengancam akan melanjutkan serangan jika Iran melanjutkan pengayaan uraniumnya. Teheran bersikeras pada haknya memperkaya uranium, sementara pemerintah AS menganggapnya sebagai “garis merah”.
Menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Iran adalah satu-satunya negara non-nuklir di dunia yang memperkaya uranium hingga 60 persen. Tingkat ini jauh melampaui batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam perjanjian internasional tahun 2015 dengan negara-negara besar, yang kemudian AS secara sepihak menarik diri darinya pada tahun 2018.
Penggunaan uranium untuk militer membutuhkan pengayaan hingga 90 persen.
Prancis, Jerman, dan Inggris, negara-negara pihak dalam perjanjian 2015, mengancam akan menerapkan kembali sanksi internasional terhadap Iran, sementara Teheran mengancam akan memberikan sanksi balasan, mengisyaratkan kemungkinan penarikan diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). (mm/alalam/raialyoum)