Teheran, LiputanIslam.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi keras ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk kembali menyerang Iran. Pezeshkian bersumpah bahwa setiap agresi lebih lanjut akan dibalas dengan respon yang menghancurkan dan “menyesalkan”.
“Respon Republik Islam Iran terhadap setiap agresi yang menindas akan keras dan menyesalkan,” tulis Pezeshkian dalam sebuah pesan di platform media sosial X, Selasa (30/12).
Trump dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida, AS, Senin (29/12), mengancam akan “menghapus” upaya Teheran untuk memajukan program nuklirnya atau meningkatkan kemampuan rudal balistiknya.
“Saya harap mereka tidak mencoba membangun kekuatan lagi karena jika mereka melakukannya, kita tidak akan punya pilihan selain dengan cepat memberantas pembangunan kekuatan itu,” ancam Trump, sembari bersumbar bahwa serangan AS di masa mendatang “mungkin akan lebih dahsyat daripada sebelumnya.”
Ini memerupakan yang pertama kalinya Trump secara blak-blakan mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap program rudal konvensional Iran, yang merupakan landasan doktrin pertahanan negara republik Islam ini.
Tidak Takut Perang
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada hari Selasa juga menanggapi ancaman Trump dengan menegaskan kesiapan penuh angkatan bersenjata Iran.
“Dengan mengambil pelajaran dari pengalaman bulan Juni dan Juli dan mempertahankan tingkat kesiapan tertinggi, pasukan Iran dari berbagai kesatuan siap memberikan respon telak terhadap agresi apa pun; respons yang bahkan disebut oleh Presiden Trump sebagai sangat keras,” ungkap Araghchi.
Araghchi mengingatkan, “Tidak boleh ada kesalahan perhitungan. Rakyat Iran tidak takut perang, seperti yang ditunjukkan pada saat itu. Namun, Iran tidak pernah mencari konflik dengan AS, dan pengekangan Teheran – yang tidak boleh disalahartikan sebagai kelemahan – adalah satu-satunya alasan mengapa pangkalan militer AS di kawasan itu tetap aman.”
Dia juga menyebutkan bahwa Washington dapat terus bergantung pada narasi palsu yang dipicu oleh rezim Zionis, atau mengambil jalan realisme, diplomasi, dan saling menghormati.
“Semakin banyak analis dan politisi yang sampai pada kesimpulan bahwa Israel bukanlah sekutu, tetapi beban tambahan bagi AS; sebuah realitas yang menjadi sangat jelas pada bulan Juni dan Juli,” ungkap Araghchi , mengacu pada peningkatan suara kritis di AS dan negara-negara Barat.
Dia juga menegaskan, “Rakyat Iran tidak akan pernah mundur dari hak-hak hukum dan sah mereka, yang merupakan hak generasi sekarang dan masa depan.”
Israel Rahasiakan Kerugiannya
Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayjen Ali Abdollahi, menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel merahasiakan kerugiannya dalam Perang 12 Hari dengan Iran pada Juni lalu.
“Rezim Zionis menderita pukulan yang sangat berat dalam Perang 12 Hari, dan informasi yang kami peroleh dari wilayah pendudukan (Palestina) menunjukkan hal ini, namun rezim ini menyensor statistik korban dan pukulan yang dideritanya. Pukulan berat ini menyebabkan Rezim Zionis secara sepihak meminta gencatan senjata,” tegasnya. (mm/tasnim)