Sanaa, LiputanIslam.com – Kerajaan Arab Saudi telah mengundang delegasi dari Sanaa, ibu kota Yaman, yang dikuasai oleh kelompok Ansarullah (Houthi), untuk mengunjungi Riyadh guna melanjutkan pembicaraan mengenai gencatan senjata, demikian dilaporkan kantor berita Arab Saudi, SPA, Kamis (14/9).
Disebutkan bahwa undangan itu dilayangkan sebagai kelanjutan dari upaya Kerajaan Saudi dan Kesultanan Oman “untuk mencapai gencatan senjata permanen dan komprehensif di Yaman dan untuk mencapai solusi politik berkelanjutan yang dapat diterima oleh semua pihak di Yaman.”
TV Al-Masirah yang dikelola Ansarullah melaporkan pada hari sebelumnya bahwa sebuah delegasi telah meninggalkan Sanaa, dan sedang dalam perjalanan ke Riyadh untuk melanjutkan perundingan.
Seorang narasumber, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media, dalam panggilan telepon kepada AFP mengatakan, “Pesawat Oman lepas landas ke Riyadh dengan delegasi Houthi di dalamnya yang mencakup 10 orang serta lima orang Oman.” Seorang pejabat Sanaa menyatakan bahwa “durasi kunjungan adalah lima hari.”
Kunjungan secara terbuka baru sekarang dilakukan oleh delegasi Ansarullah ke Kerajaan Arab Saudi sejak Riyadh pada tahun 2015 mulai melancarkan kampanye militer sebagai pemimpin koalisi terhadap Ansarullah, yang merupakan sekutu Iran di Yaman.
Kunjungan itu diadakan sekitar lima bulan setelah delegasi Saudi mengunjungi Sanaa untuk membahas proses perdamaian.
Oman berperan sebagai mediator dalam konflik. Sebelumnya pada hari Kamis, kantor berita Yaman, Saba, melaporkan kedatangan delegasi Oman ke Sanaa, didampingi oleh juru bicara resmi Ansarullah dan anggota tim perunding, Muhammad Abdel Salam, yang berkedudukan di Oman.
Saba mengutip pernyataan Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman, Mahdi Al-Mashat, dalam pertemuan dengan delegasi Oman sebelum pesawat lepas landas bahwa “sebagai tanggapan atas mediasi saudara Kesultanan Oman, delegasi nasional akan pergi, didampingi oleh delegasi Oman, ke Riyadh untuk merampungkan pembicaraan dengan pihak Saudi.”
Al-Mashat juga mengatakan, “Perdamaian senantiasa merupakan opsi pertama kami, dan yang harus diimplementasikan sebelum yang lain.” (mm/raialyoum)