Buntut Penerbitan Kartun Nabi, Para Pejabat Iran Ramai-Ramai Mengecam Presiden Prancis

0
104

Teheran, LiputanIslam.com –  Para pejabat Republik Islam Iran ramai-ramai mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron yang bersikukuh membela penerbitan karikatur yang menghina Nabi Besar Muhammad saw.

“Muslim adalah korban utama ‘kultus kebencian’ yang diberdayakan oleh rezim kolonial dan diekspor oleh klien mereka sendiri,” ungkap Menlu Iran Mohammad Javad Zarif dalam cuitannya di Twitter, Senin (26/10/2020).

“Menghina 1,9 miliar Muslim  & kesucian mereka karena kejahatan menjijikkan dari ekstremis semacam itu adalah penyalahgunaan kebebasan berbicara oportunistik. Itu hanya menyulut ekstremisme,” imbuhnya.

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Ali Shamkhani dalam cuitannya menyebut “perilaku irasional” Macron mencerminkan “kekasarannya dalam berpolitik” dan “minimnya pengalaman dalam politik. (Karena) jika tidak, dia tidak akan berani menghina Islam”.

Dia lantas menasehati Macron agar “membaca lebih banyak sejarah” dan tidak bergantung pada “dukungan dari Amerika yang merosot dan Israel yang memburuk”.

Ketua parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf mengecam “permusuhan bodoh” Prancis terhadap Nabi Muhammad saw, dan memastikan bahwa “cahaya tidak bisa dipadamkan dengan tindakan buta, sia-sia, dan anti-manusia”.

Penasihat pemimpin besar Iran untuk kebijakan luar negeri Ali Akbar Velayati menegaskan bahwa karikatur itu seharusnya tidak dicetak ulang menyusul “kecaman global” terhadap majalah satir Prancis Charlie Hebdo.

“Kita seharusnya melihat majalah cabul yang menghina Nabi itu dilarang dicetak, namun penerapan standar ganda menyebabkan pemikiran sesat dan anti-agama ini juga memanifestasikan dirinya dalam sistem pendidikan negara itu,” ungkap Velayati dalam sebuah pernyataan.

Kepala Kehakiman Iran Seyed Ebrahim Rayeesi menyebut tindakan Prancis “tak bermartabat” dan merupakan penghinaan bagi semua nabi.

“Menghina kesucian jutaan orang bertentangan dengan agama Ibrahim, merupakan penghinaan terhadap manusia dan rasionalisme, membela ketidaktahuan, dan memberikan kebebasan bertindak kepada orang-orang yang bodoh,” kecam Rayeesi.

Dia menambahkan, “Dukungan kepada penistaan nabi terakhir terakhir oleh pemerintah yang mengklaim mendukung kebebasan dan HAM sebenarnya adalah penghinaan terhadap Nabi Musa as dan Nabi Isa as serta perlawanan terhadap kebebasan dan HAM. ” (mm/aljazeera/fna)

DISKUSI: