Buntut Kasus Khashoggi, Turki dan Saudi Saling Blokir Situs Berita

0
371

Ankara, LiputanIslam.com –  Otoritas Turki, Ahad (19/4/2020), memblokir situs-situs berita milik Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), beberapa hari setelah situs-situs penyiaran dan kantor berita Turki diblokir di Arab Saudi.

Aksi timbal balik ini terjadi empat minggu setelah para jaksa penuntut Turki mendakwa 20 orang Saudi atas pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul,Turki. Kasus ini telah merusak hubungan antara Ankara dan Riyadh.

Para pengguna internet di Turki mencoba mengakses situs-situs kantor berita Saudi SPA dan kantor berita UEA WAM serta belasan situs lainnya, tapi menemukan pesan yang menyebutkan bahwa semua situs itu telah diblokir di bawah undang-undang yang mengatur publikasi internet di Turki.

Seorang juru bicara Kementerian Kehakiman Turki menolak mengomentari hal itut, sementara kantor media pemerintah Arab Saudi juga enggan berkomentar ketika dihubungi Reuters.

Website Turki surat kabar Independent yang berbasis di Inggris, yang dioperasikan oleh sebuah perusahaan Saudi, adalah salah satu situs yang akan diblokir di Turki, dalam sebuah langkah yang menurut editornya mencerminkan ketegangan politik antara Riyadh dan Ankara.

“Kami percaya ketegangan antara Arab Saudi dan Turki tercermin pada kami,” kata editor Nevzat Cicek kepada Reuters. Dia menduga pemblokiran itu merupakan “pembalasan terhadap Arab Saudi”.

Awal bulan ini otoritas Saudi memblokir website kantor berita Anadolu dan situs TRT milik pemerintah Turki. Menurut Anadolu, surat kabar yang berbasis di Saudi al-Marsad pada 11 April lalu mengaku “mengetahui dari sumbernya bahwa banyak media Turki telah diblokir”.

“Salah satu outlet media yang diblokir ini adalah Kantor Berita Anadolu,” lapor al-Marsad.

Riyadh memblokir situs-situs Turki setelah kantor kejaksaan Istanbul bulan lalu mengumumkan bahwa mereka telah menyiapkan dakwaan terhadap 20 tersangka atas pembunuhan Khashoggi, termasuk dua petinggi Saudi Ahmed al-Asiri, mantan wakil kepala intelijen umum, dan mantan penasihat kerajaan Saud al-Qahtani.

Kantor kejaksaan menyatakan dakwaan itu menuduh al-Asiri dan al-Qahtani telah “menghasut pembunuhan berencana dengan niat mengerikan”.

Pembunuhan Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018 telah menghebohkan dunia dan menodai citra Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS).

Beberapa pemerintah Barat, serta CIA, mengaku percaya MBS memerintahkan pembunuhan itu, dan  para pejabat Saudipun membantahnya. (mm/aljazeera)

DISKUSI: