Gaza, LiputanIslam.com – Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, mengumumkan pihaknya menolak menyerahkan para pejuangnya di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, dan menuntut pertanggungjawaban penuh Israel atas bentrokan yang terjadi di wilayah tersebut.
Dalam pernyataan resmi, Ahad (9/11), Brigade al-Qassam menegaskan bahwa para pejuangnya di Rafah membela diri, dan bahwa menyerah atau penyerahan diri kepada musuh tidak ada dalam kamus mereka.
Brigade Qassam mendesak para mediator untuk mengemban tanggung jawab mereka dan berupaya menemukan solusi yang akan menjamin kelanjutan gencatan senjata dan mencegah Israel memanfaatkan dalih apa pun untuk melanggarnya atau menyerang warga sipil.
Mereka menambahkan bahwa operasi evakuasi yang dilakukan pada tahap sebelumnya dilakukan dalam situasi yang kompleks dan sulit, dan menekankan komitmennya terhadap apa yang diwajibkan kepadanya berdasarkan perjanjian yang ada, dan penyelesaian evakuasi mayat yang tersisa membutuhkan personel dan peralatan teknis tambahan.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Kepala Staf militer Israel Eyal Zamir mengaku siap mempertimbangkan evakuasi sekitar 200 militan di Rafah dengan imbalan pengembalian mayat Letnan Hadar Goldin, yang telah ditahan di Gaza sejak 2014.
Perusahaan Penyiaran Israel juga melaporkan, “Pemerintah Israel telah membahas dalam beberapa hari terakhir sebuah proposal untuk mengizinkan perjalanan yang aman bagi sekitar 200 pejuang Hamas yang berada di wilayah yang dikuasai Israel di Jalur Gaza, dengan imbalan pengembalian semua mayat para tawanan ke Israel.”
Tentara Israel pada hari Ahad mengumumkan pihaknya menerima mayat seorang tahanan Israel yang ditahan Hamas di Jalur Gaza melalui mediasi Komite Palang Merah Internasional. Hal ini menyusul pengumuman sebelumnya dari Brigade Izzuddin al-Qassam tentang niat mereka untuk menyerahkan jenazah Letnan Hadar Goldin.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza di hari yang sama mengumumkan bahwa tujuh korban gugur dan lima korban luka telah tiba di rumah sakit di Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir, termasuk satu korban gugur baru dan enam korban gugur yang ditemukan dari bawah reruntuhan.
Kementerian itu dalam laporannya menjelaskan bahwa sejumlah korban masih tertimbun reruntuhan dan di jalan-jalan, karena ambulan dan tim pertahanan sipil belum dapat menjangkau mereka.
Kementerian itu juga menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata pada 11 Oktober 2025, jumlah total korban gugur mencapai 241 orang, sementara jumlah korban luka mencapai 619 orang, di samping 528 mayat yang berhasil ditemukan.
Dinyatakan bahwa total korban agresi Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi 69.176 korban gugur dan 170.690 korban luka. (mm/raialyoum/almayadeen)