
Washington, LiputanIslam.com – Washington Post dalam laporannya pada hari Minggu (29/6) mengutip pernyataan empat orang yang dinilai mengetahui informasi rahasia yang beredar di dalam pemerintahan AS bahwa komunikasi Iran yang disadap mencakup pernyataan yang meremehkan kerusakan yang disebabkan oleh serangan AS terhadap program nuklir Iran.
Seorang sumber, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengonfirmasi laporan tersebut kepada Reuters, namun mengatakan ada pertanyaan serius tentang apakah pejabat Iran mengatakan yang sebenarnya, dan menilai penyadapan tersebut sebagai indikator yang tidak dapat diandalkan.
Laporan Washington Post menyebutkan berbagai peristiwa terbaru yang menimbulkan pertanyaan tentang tingkat kerusakan pada program nuklir Iran. Sebuah penilaian awal yang dibocorkan oleh Badan Intelijen Pertahanan memperingatkan bahwa serangan tersebut mungkin hanya membuat Iran mundur beberapa bulan.
Presiden AS Donald Trump mengklaim serangan itu “benar-benar menghancurkan” program nuklir Iran, tapi para pejabat AS lain mengakui bahwa perlu waktu untuk menilai sepenuhnya kerusakan yang disebabkan oleh serangan militer AS awal minggu lalu.
Pemerintah Trump tidak menyangkal adanya komunikasi intelijen yang disadap, namun sangat tidak setuju dengan kesimpulan Iran dan mempertanyakan kemampuan mereka untuk menilai kerusakan pada fasilitas nuklir yang menjadi sasaran operasi AS.
“Gagasan bahwa para pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya tahu apa yang terjadi di bawah reruntuhan setinggi ratusan kaki adalah omong kosong. Program senjata nuklir mereka sudah berakhir,” kata juru bicara Gedung Putih Caroline Leavitt kepada Washington Post.
Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Minggu di Fox News, Trump menegaskan kembali keyakinannya bahwa serangan itu menghancurkan kemampuan nuklir Iran.
“Mereka hancur seperti yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Itu berarti akhir dari ambisi nuklir mereka, setidaknya untuk jangka waktu tertentu,” katanya. Dalam pengarahan rahasia kepada Kongres minggu lalu, Direktur CIA John Ratcliffe mengatakan kepada anggota parlemen bahwa beberapa situs nuklir utama telah hancur total, termasuk fasilitas yang didedikasikan untuk proses produksi logam uranium, yang akan memakan waktu bertahun-tahun untuk dibangun kembali.
Menurut Washington Post, para analis secara umum setuju bahwa serangan itu menggunakan senjata besar, termasuk bom penghancur bunker dan rudal jelajah Tomahawk, yang disebutkan telah merusak parah fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Namun, tingkat kerusakan dan waktu yang dibutuhkan untuk rekonstruksi masih kontroversial.
Iran: Trump Tebar Omong Kosong
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menyebut klaim Trump sebagai omong kosong yang dilontarkan sebagai bentu perang psikologis.
“Penyebaran pesan-pesan yang kontradiktif dan kebohongan para politisi asing, yang dipimpin oleh presiden AS, telah menjadi pilar mendasar perang psikologis musuh. Dia mengklaim suatu hari telah mencabut sanksi melalui media sosial, lalu memberlakukannya kembali keesokan harinya dengan dalih yang berbeda, demi menunjukkan bahwa problematikanya terletak pada pejabat Iran.”
Dia menambahkan, “Masih belum jelas bagaimana AS dapat memulai perang di tengah negosiasi, sementara politisi yang kontradiktif ini secara bersamaan berbicara tentang keinginannya untuk mencapai kesepakatan dan kemungkinan perang baru, dengan tujuan menanamkan rasa takut di hati rakyat Iran.”
Qalibaf juga mengatakan, “Mereka yang mengkhianati tanah air mereka dan menghambur-hamburkan modal media mereka kini menggunakan perang psikologis langsung terhadap pemuda Iran. Namun, rakyat Iran mengetahui metode ini dengan baik, dan pengkhianat akan menderita kekalahan. Rakyat Iran tidak akan pernah meninggalkan tanah air mereka dalam keadaan apa pun, dan pengkhianat serta tentara bayaran tidak punya tempat selain di tong sampah sejarah.” (mm/reuters/washingtonpost)