Beirut, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam kunjungannya ke Lebanon menegaskan bahwa Iran tidak mencari perang tetapi siap jika perang dipaksakan terhadapnya.
Dalam pernyataan kepada wartawan di Beirut, Kamis (8/), Araghchi mengumumkan bahwa kunjungannya bertujuan untuk mengadakan konsultasi intensif dengan para pejabat Lebanon mengenai perkembangan regional, khususnya ancaman yang ditimbulkan oleh entitas Zionis Israel, serta untuk membahas cara-cara memperkuat hubungan bilateral selama periode sensitif ini.
Dia mengaku akan mengadakan pertemuan dengan para pejabat Lebanon, dan menjelaskan bahwa tujuan utama kunjungan ini adalah untuk berkonsultasi dengan pemerintah Lebanon mengenai perkembangan regional.
Dia menyebutkan bahwa kawasan Timur Tengah sedang menghadapi tantangan dan ancaman serius, terutama dari Israel, dan bahwa selama dua tahun terakhir, tujuh negara regional, termasuk Iran dan Lebanon, telah menjadi sasaran serangan Israel.
Menurutnya, sebagian wilayah Lebanon masih berada di bawah pendudukan Israel dan bahwa perjanjian gencatan senjata yang diumumkan tahun lalu telah berulang kali dilanggar Israel. Dia menekankan bahwa kunjungannya bertujuan terutama mengadakan konsultasi ekstensif dengan para pejabat senior Lebanon mengenai tantangan dan ancaman ini.
Araghchi memastikan negaranya akan terus mendukung persatuan nasional, kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Lebanon. Dia menegaskan bahwa sikap pemerintah Lebanon terhadap Iran selalu didasarkan pada prinsip yang sama, dan Teheran berupaya mengembangkan hubungan berdasarkan rasa saling menghormati dan pencapaian kepentingan bersama.
Menanggapi pertanyaan mengenai ancaman Israel terhadap Lebanon, Araghchi mengatakan bahwa negaranya akan mengadakan konsultasi erat dengan para pejabat Lebanon mengenai masalah krusial ini.
Menteri Luar Negeri Iran juga menjawab pertanyaan lain mengenai ancaman AS dan Israel terhadap Iran. Dia menegaskan bahwa AS dan Israel sebelumnya telah mencoba menyerang Iran dan gagal, dan jika keduanya mengulangi pengalaman ini hasilnya akan tetap sama.
Dia lantas menegaskan bahwa Iran siap menjalani skenario apa pun dan tidak mencari perang, tetapi siap menjalaninya. Dia juga menyatakan negaranya terbuka untuk negosiasi, asalkan didasarkan pada rasa saling menghormati, dan negosiasi tidak dapat dimulai selama didasarkan pada dikte. (mm/alalam)