Berkunjung Ke Irak, Presiden Iran Kecam Kunjungan Rahasia Trump

0
50

Baghdad, LiputanIslam.com – Presiden Iran Hassan Rouhani berada di Baghdad, ibu kota Irak, dalam sebuah kunjungan yang ditujukan untuk memperkuat hubungan strategis antara Iran dan Irak di tengah upaya AS memisahkan keduanya dan mengekang pengaruh Iran di Timteng.

Rouhani bertemu dengan sejawatnya di Irak, Barham Salih, tak lama setelah tiba di Baghdad, Senin (11/3/2019), untuk pembicaraan penting yang disebutnya “sangat baik.”

“Memperkuat hubungan antara Teheran dan Baghdad adalah untuk kepentingan kedua negara, dan kami tidak akan membiarkan jalan positif menuju kemajuan ini terhenti,” ungkap Rouhani pada konferensi pers bersama Salih.

Salih menyebut kunjungan itu “sangat penting” dan mengatakan bahwa kedua pihak telah menyetujui kerangka kerja baru untuk kerja sama yang akan diumumkan pada hari berikutnya.

“Kita perlu melewati detail sepele dalam hubungan timbal balik dan berpikir tentang ruang yang lebih besar dan lebih luas untuk kerja sama dan hubungan karena ini akan melayani kepentingan kedua negara,” tambahnya.

Presiden Iran berterima kasih kepada Irak karena telah menampung jutaan warga Iran yang datang ke negara 1001 Malam ini setiap tahun pada momen Arba’in, yaitu peringatan hari ke-40 kesyahidan cucunda Rasulullah saw, Imam Hussein bin Ali bin Abi Thalib ra.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menilai kunjungan Rouhani ini “bersejarah dan mulia”, sementara para pengamat memandangnya sebagai reaksi Iran terhadap kunjungan singkat Presiden AS Donald Trump ke Irak pada Desember 2018.

Trump mendadak berkunjung ke Irak pada peringatan Natal tahun lalu, dan menghabiskan sebagian besar kunjungan singkatnya itu untuk menjelaskan keinginannya mempertahankan pasukan AS di Irak dengan tujuan “mengawasi” Iran melalui Irak yang berbatasan dengan Iran sepanjang 1.400 kilometer.

Kunjungan Trump itu telah memicu kemarahan banyak pejabat Irak dan para pemimpin di kawasan, termasuk Presiden Rouhani, yang menyebut kunjungan rahasia itu dilakukan Trump seolah-olah dia mendatangi negara bagian AS sendiri dan menciderai kedaulatan Irak.

Tidak seperti Trump yang harus mendarat di sebuah pangkalan militer di tengah kegelapan malam tanpa ada pejabat Irak yang menyambutnya, Rouhani mendarat di Baghdad di siang hari dan diterima secara resmi oleh pejabat tinggi Irak.

Rouhani menyebut kunjungan rahasia Trump itu “kekalahan” bagi AS di Irak”, dan menyoal mengapa Trump tidak memilih melakukan kunjungan “kunjungan terbuka dan resmi”.

Kepada wartawan di Teheran sebelum keberangkatan pada hari Senin Presiden Iran mengatakan bahwa hubungan antara Iran dan Irak tidak seperti hubungan antara Baghdad dan pasukan Amerika yang “menduduki”.

“AS dibenci di wilayah ini. Bom yang mereka jatuhkan terhadap rakyat Irak, Suriah, dan negara-negara lain tidak dapat dilupakan, dan pada saat yang sama, persaudaraan Iran terhadap negara-negara di kawasan ini akan selalu diingat, ”tuturnya.

Kunjungan Rouhani ke Irak yang dilakukan menyusul kekalahan kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak merupakan sebuah pencapaian yang secara luas diyakini tidak mungkin terjadi tanpa peran penting Iran dalam memberikan bantuan konsultasi kepada pemerintah Irak dan Suriah.

Zarif di Baghdad pada Ahad lalu menegaskan bahwa Iran dan Irak menjalin hubungan “strategis” yang tidak dapat dilemahkan oleh negara manapun, dan mencatat bahwa para pemuda kedua negara telah bahu membahu memerangi ISIS. (mm/presstv)

DISKUSI: