Presiden Suriah, Bashar Al-Assad

Damaskus, LiputanIslam.com –  Presiden Suriah Bashar Assad mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya kepala semua klaim AS, termasuk mengenai keterbunuhan pemimpin kelompok teroris ISIS, kecuali jika menyodorkan bukti.

“(Presiden AS Donald) Trump berterus terang ‘kami menginginkan minyak’, inilah hakikat politik AS. Kita jangan mengandalkan siapapun presiden AS. Apa yang dia katakan tidaklah faktual… AS adalah pihak yang menduduki, kita tidak menggubris pernyataan-pernyataannya,” tutur Assad dalam wawancara dengan saluran TV al-Suriah dan al-Ikhbariya al-Suriah, Kamis (31//10/2019).

Mengenai kabar kematian al-Baghdadi di tangan pasukan AS dia mengatakan, “Skenario yang disebar AS untuk operasi pembunuhan Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin DAESH (ISIS), merupakan bagian dari tipudaya AS, kita tidak boleh percaya kepada segala yang dikatakan AS kecuali jika membawa bukti.”

Dia menjelaskan bahwa al-Baghdadi semula ada di dalam penjara AS di Irak tapi kemudian dibebaskan agar memainkan suatu peran di mana dia hanyalah sosok yang memang sewaktu-waktu dapat diganti dengan orang lain.

“Saya kira, hasilnya akan kembali muncul sosok lain, dan bisa jadi ISIS akan kembali diproduksi dengan nama lain sesuai kebutuhan, tapi dengan faham yang sama, rekrutmen yang sama, dan pengelolanyapun adalah AS,” ujar Assad.

Mengenai situasi di Suriah utara, Assad mengatakan bahwa perjanjian Rusia dengan Turki hanyalah bersifat sementara dan bertujuan mengendalikan iktikad buruk Turki terhadap Suriah serta menghadang jalan AS.

Menurutnya, perjanjian itu positif namun tidak berarti mewujudkan segala sesuatu, melainkan sekedar mengurangi bahaya serta untuk menyiapkan jalan bagi pembebasan kawasan Suriah utara dalam waktu dekat.

Baca: Komisi Konstitusional Suriah Gelar Pertemuan Perdana di Jenewa

“Tentara Turki justru merupakan wakil AS dalam perang ini, kita tidak boleh mengabaikan kesempatan untuk proses politik, dan jika tidak membuahkan hasil maka kita harus bergerak menuju perang,” tegasnya.

Dia melanjutkan, “Tentara Turki semula berada dalam perjanjian dengan tentara Suriah hingga kemudian (Presiden Turki Recep Tayyip) Erdogan berbalik, dan kitapun tidak ingin mengubah (bangsa) Turki menjadi musuh, melalui koordinasi dengan Rusia dan Iran.”

Baca: Rusia dan Iran Kecam Rencana Trump Kuasai Ladang Minyak Suriah

Assad menilai Erdogan berusaha mengesankan dirinya sebagai “pengambil keputusan”, padahal dia justru “representasi AS dalam perang ini”.

Dia memastikan bahwa pemerintah Suriah akan membebaskan Idlib dan Suriah utara dari pendudukan kawanan bersenjata setelah semua proses politik ditempuh. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*