Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menyatakan bahwa perselisihan antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran bersifat fundamental, bukan taktis atau situasional.
Dalam pertemuan dengan ribuan mahasiswa di Kompleks Imam Khomeini, pusat kota Teheran, pada momen peringatan peristiwa 13 Aban (perebutan Kedubes AS oleh mahasiswa Iran, 4 November 1979), Senin (4/11), dia menekankan bahwa perselisihan itu bersifat intrinsik, dan menyoroti benturan kepentingan yang fundamental.
Ayatullah Khamenei menambahkan bahwa permintaan AS untuk bekerja sama dengan Iran hanya akan dipertimbangkan, bukan dalam waktu dekat, melainkan di kemudian hari, dengan syarat AS sepenuhnya menghentikan dukungannya kepada Israel, menarik pangkalan militernya dari kawasan Timur Tengah, dan menahan diri untuk tidak mencampuri urusan internalnya.
Mengenai sejarah permusuhan AS terhadap Iran, serta signifikansi penyitaan kedutaan besar tahun 1979, Ayatullah Khamenei mengatakan, “Penyitaan kedutaan besar AS oleh pemuda dapat dikaji dari dua perspektif: historis dan terkait identitas.”
Dari sudut pandang historis, dia mencirikan 13 Aban sebagai hari kebanggaan dan kemenangan bagi bangsa Iran, dengan menekankan, “Dalam sejarah Iran, ada hari-hari kemenangan sekaligus hari-hari kelemahan dan kemunduran, yang keduanya harus dilestarikan dalam memori nasional kita.”
Dia menambahkan, “Penyitaan Kedutaan Besar AS mengungkapkan identitas sejati pemerintah AS dan hakikat sejati Revolusi.”
Dia menilai tidaklah tepat memandang penyitaan Kedutaan Besar AS sebagai titik awal permasalahan antara AS dan Iran.
“Permasalahan kami dengan AS dimulai pada 19 Agustus 1953 (ketika Perdana Menteri Mohammad Mossadegh digulingkan), bukan pada 4 November 1979. Lebih lanjut, penyitaan kedutaan tersebut mengungkap konspirasi dan ancaman signifikan terhadap Revolusi,” ujarnya.
Ayatullah Khamenei menepis anggapan bahwa permusuhan AS terhadap Iran berakar pada slogan-slogan anti-AS seperti “mampus Amerika,” dan menyebutnya salah tafsir sejarah.
Dia menjelaskan,”Kita tidak menyerah kepada AS, tetapi apakah kita tidak akan pernah memiliki hubungan dengannya selamanya? Pertama-tama, sifat arogan AS menuntut kita untuk menyerah. Semua presiden AS menginginkan ini tetapi tidak mengungkapkannya secara terbuka, namun presiden saat ini telah menyuarakannya dan, dengan demikian, menyingkap sifat AS yang sebenarnya.”
Dia menyebut harapan agar bangsa Iran menyerah sebagai sesuatu yang sia-sia. “Meskipun kita tidak dapat memprediksi masa depan yang jauh, setiap orang harus memahami bahwa solusi untuk banyak masalah terletak pada kekuatan,” katanya.
Dia juga menekankan, “Kekuatan dalam manajemen, sains, militer, dan motivasi sangat penting untuk memastikan kekebalan negara. Pemerintah harus memenuhi tanggung jawabnya di bidang-bidang ini dengan kuat.”
Menanggapi beberapa pernyataan dari warga Amerika yang menyatakan keinginan untuk bekerja sama dengan Iran, dia menegaskan, “Kerja sama dengan Iran tidak sejalan dengan kerja sama dan dukungan AS terhadap rezim terkutuk Zionis.” (mm/irna)