Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada hari Rabu (14/8) menegaskan bahwa perang psikologis terhadap Iran merupakan tipu daya yang bertujuan menimbulkan ketakutan pada jiwa masyarakat demi memaksa mereka mundur, dan bahwa mengetahui kemampuan diri sendiri dan menghindari melebih-lebihkan kemampuan musuh merupakan cara untuk menggagalkan tujuan musuh tersebut.
Membesar-besarkan kemampuan militer dan melebih-lebihkan persenjataan dan peralatan logistik musuh adalah bagian dari tipuan perang psikologis yang hendak dipraktikkan oleh entitas Israel dan AS terhadap Iran. Demikianlah dikatakan Ayatullah Khamenei dalam menggambarkan intimidasi AS-Israel terhadap Iran.
Dia menekankan bahwa perang psikologis yang dikoarkan Barat terhadap Iran bertumpu pada aksi melebih-lebihkan kemampuan Barat, dan merupakan trik yang bertujuan untuk membangkitkan ketakutan di hati masyarakat demi memaksa mereka mundur di berbagai bidang, sementara kenyataannya, kekuatan Barat justru berlawanan dengan apa yang dikoarkan.
Ayatullah Khamenei menekankan bahwa cara untuk menggagalkannya adalah percaya pada kemampuan negara-negara regional sendiri. Dia menyerukan untuk tidak melebih-lebihkan kemampuan pihak lawan.
Menurut saluran berita Al-Alam milik Iran, gambaran yang diberikan oleh Pemimpin Besar Iran mengenai dukungan AS kepada Israel tersebut mencerminkan kesadaran dan pengetahuan akan aspek dan pesan dari dukungan tersebut, yang mengungkapkan kelemahan Israel, yang menuntut kehadiran Barat secara langsung untuk membelanya.
Al-Alam menilai janji para politisi Barat untuk melindungi entitas Zionis itu dari serangan balasan Iran kembali membuktikan bahwa ancaman rezim pendudukan Israel hanyalah gelembung yang dipecahkan oleh pengerahan pasukan Barat untuk membelanya.
Pengerahan pasukan itu menghapus pamor palsu tentara pendudukan Israel, apalagi mengingat bahwa tentara ini pada kenyataannya masih terjebak pada kubangan maut di Gaza dalam perang tak seimbang dengan faksi-faksi pejuang Palestina, perang yang selama 10 bulan ini telah menewaskan dan melukai lebih dari 10,000 tentaranya, menurut media Israel sendiri. (mm/alalam)