Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, menegaskan jika AS mengancam Iran maka Iran pun akan mengancamnya, dan menekankan bahwa negosiasi dengan AS bukanlah tindakan yang bijaksana.
“Jika Amerika mengancam kita, kita akan mengancam mereka, dan jika mereka melaksanakan ancaman mereka, kita pun akan melaksanakan ancaman kita, dan jika mereka menyerang keamanan kita, kita pun akan menyerang keamanan mereka tanpa ragu-ragu,” tegasnya dalam kata sambutan pada pertemuan dengan sekelompok komandan Angkatan Udara dan Pertahanan Udara Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Jumat (7/2).
Ayatullah Khamenei menambahkan bahwa bernegosiasi dengan pemerintah seperti AS adalah tindakan yang tidak rasional, tidak bijaksana, dan tidak terhormat.
Pemimpin Besar Iran menyatakan demikian beberapa jam setelah AS memberlakukan sanksi pertamanya menyusul penandatanganan perintah Presiden Donald Trump untuk memberlakukan kembali “tekanan maksimum” terhadap Iran.
Dia memenyebutkan pengalaman tahun 2015 ketika Iran dan enam negara lain, termasuk AS, menandatangani Perjanjian Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang sekarang tidak aktif setelah dua tahun negosiasi, hanya untuk dibatalkan oleh Presiden Trump pada tahun 2018.
“Pada dekade lalu, kita duduk di meja perundingan dengan Amerika, dan sebuah kesepakatan telah disepakati. Tapi orang yang berkuasa saat ini (di AS, Donald Trump) telah menghancurkan perjanjian itu. Sebelum itu pun, mereka yang terlibat dalam penandangan perjanjian itu juga tidak konsisten kepadanya. Perjanjian itu dimaksudkan untuk mencabut embargo, tapi embargo tak dicabut,” terangnya.
Dia juga mengatakan, “Bernegosiasi dengan Amerika tidak akan berpengaruh dalam penyelesaian masalah negara. Yang menyelesaikan masalah adalah tekad tulus para pejabat dan solidaritas rakyat yang bersatu.”
Ayatullah Khamenei menambahkan, “ Orang Amerika sedang duduk dan mengubah peta dunia di atas kertas. Tentu saja itu hanya di atas kertas ,dan tidak pernah menjadi kenyataan.”
Iran saat ini tengah merayakan hari jadi Revolusi Islam yang mengakhiri rezim Pahlavi yang didukung AS pada tahun 1979.
Setiap tahun pada tanggal 8 Februari, personel Angkatan Udara Iran bertemu dengan Pemimpin Besar Iran untuk mengenang kembali kesetiaan para perwira Angkatan Udara kepada pendiri Republik Islam, Imam Khomeini, pada tahun 1979. Peristiwa tersebut dipandang sebagai titik balik yang berujung pada kemenangan Revolusi Islam tiga hari kemudian. (mm/alalam)