Atwan: Trump Ajak Iran Berdialog Setelah Gertakan Militernya Tak Mempan

0
115

London, LiputanIslam.com –  Dalam waktu kurang dari dua hari untuk kedua kalinya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajak para pejabat Iran untuk duduk  bersama di meja dialog.  CNN melaporkan bahwa Gedung Putih memberikan nomor telefonnya kepada Swiss selaku pemangku kepentingan Iran di AS agar diberikan kepada Iran dengan harapan para petinggi Iran dapat menghubungi Trump. Namun, otoritas Swiss tidak memberikan nomor itu karena Iran tidak memintanya.

Dalam sebuah konferensi pers pada Kamis lalu Trump menyilakan Iran datang meja dialog untuk mencapai perjanjian nuklir baru. Dia bersumbar bahwa perjanjian yang akan dijalin nanti akan adil, dan karena itu dia mengatakan bahwa apa yang harus dilakukan Iran sekarang adalah menghubunginya.

Mengomentari hal tersebut, Pemimpin Redaksi media online berbahasa Arab Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris, Abdel Bari Atwan, menilai Iran tidaklah menghendaki nomor telefon khusus Trump. Sebab, kalau Iran memang berminat untuk bernegosiasi lagi dengan AS, cukuplah Menlu Iran Mohammad Javad Zarif membuat pernyataan itu melalui konferensi pers.

Sejauh ini Iran belum dan bisa jadi tidak akan pernah menunjukkan minat itu. Menurut Atwan, ketidak sediaan Iran itu tak lain karena Iran bersiteguh pada pernyarataannya yang tersimpul pada dua poin; pertama, pencabutan embargo AS terhadap Iran; kedua, kembalinya AS kepada perjanjian nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia yang diteken pada tahun 2015.

Lantas mengapa Trump sedemikian percaya diri mengajak Iran berdialog? Atwan dalam artikel Tajuk Rencana Ray al-Youm, Sabtu (11/5/2019),  berpendapat bahwa Trump berbuat demikian setelah merasa yakin sepenuhnya bahwa Iran tak mempan ditakut-takuti dengan pengiriman kapal induk dan pesawat pembom B-52 ke kawasan Teluk Persia. Trump menurunkan volume tekanannya dari level intimidasi ke level persuasi.

Di bagian akhir artikelnya Atwan menuliskan, “Kami tidak yakin bahwa Iran akan menyerah pada ancaman pemerasan ini, dan akan tetap konsekuen pada semua persyaratannya untuk kepada segala bentuk dialog. Pernyaratan itu ialah pencabutan sanksi sepenuhnya, pembatalan keluarnya AS dari perjanjian nuklir. Jika tidak maka Iran akan kembali memperkaya uranium pada level tertinggi, dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan segala bentuk agresi, termasuk dengan menggempur pangkalan serta kapal induk dan kapal-kapal perang AS lain, memblokir Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb, serta membuka pintu arsenal rudalnya yang memang dipersiapkan untuk menghadapi agresi militer musuhnya.”

Atwan juga menyebutkan bahwa di Irak ada 6000 tentara AS yang berada dalam pantauan pasukan relawan al-Hashd al-Shaabi yang merupakan sekutu kuat Iran, dan di Suriah juga ada 2000 tentara AS yang akan mendapat serangan dari sekutu Iran. Sedangkan untuk Israel ada rudal-rudal Hizbullah dan faksi Jihad Islam yang siap menggulung negara Zionis itu dengan lautan api. (mm/raialyoum)

DISKUSI: