Damaskus, LiputanIslam.com – Setelah kepala Pemerintahan Sementara Suriah, Abu Muhammad al-Julani, berkunjung ke Washington dan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, garis besar fase baru dalam lanskap Suriah mulai terlihat. Al-Julani kini sedang menjalankan agenda AS yang terdefinisi dengan baik di kawasan Timur Tengh.
Tugas yang diberikan kepadanya adalah mengarahkan kembali arena Suriah, mengubahnya menjadi alat dalam konflik melawan ISIS, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hamas, dan Hizbullah, dalam apa yang disebut Washington sebagai koalisi internasional melawan terorisme. Namun, koalisi ini lebih tampak sebagai proyek untuk membentuk kembali pengaruh di Timur Tengah daripada perang melawan teror yang sesungguhnya.
Utusan AS Tom Barrack mengatakan bahwa Washington memandang tahap ini sebagai titik balik yang krusial, karena Suriah sedang bertransformasi dari negara yang terisolasi menjadi mitra strategis. Hal ini secara efektif berarti menyerahkan pengambilan keputusan Suriah pada perimbangan regional yang disusun oleh pemerintah AS.
Dia menyebutkan bahwa bahwa AS mulai mengambil langkah-langkah untuk mencabut sanksi ekonomi, termasuk Undang-Undang Caesar, sebagai imbalan atas partisipasi Damaskus dalam koalisi yang dipimpin AS.
Barrack juga mengungkapkan pertemuan trilateral antara pejabat AS, Turki, dan Suriah, di mana dia menyusun apa yang disebutnya sebagai peta baru Timur Tengah. Peta ini mencakup integrasi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) ke dalam struktur militer Suriah dan redefinisi hubungan Turki-Suriah-Israel.
Ketentuan-ketentuan ini, menurut para pengamat, menunjukkan bahwa Washington sedang berupaya membangun sistem keamanan baru di mana al-Julani bertindak sebagai polisi lapangan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan-kebijakan AS di Suriah.
Apa terjadi tampak bukan sekadar kerja sama keamanan, melainkan perombakan peran Suriah di bawah pengawasan asing dimana al-Julani diubah menjadi alat AS untuk mengendalikan situasi internal dan melindungi kepentingan Washington dan sekutu-sekutunya.
Pendekatan ini, meskipun berkedok memerangi terorisme, secara efektif merupakan upaya untuk mendaur ulang pengaruh asing di Suriah dan melemahkan setiap proyek nasional independen yang akan memulihkan kekuatan pengambilan keputusan dan kedaulatan sejati rakyat Suriah. (mm/alalam)