Teheran, LiputanIslam.com – Menteri Pertahanan Iran Brigjen Aziz Nasirzadeh melontarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS) sembari mengumumkan keberhasilan uji coba rudal baru berhulu ledak seberat dua ton.
Kepada wartawan pada hari Rabu (11/6) Nasirzadeh mengatakan, “Beberapa pejabat di pihak lawan sedang mengancam bahwa jika perundingan (nuklir) tidak mencapai hasil maka keadaan akan menjurus pada konfrontasi dan pertumpahan darah. Atas nama rakyat dan Angkatan Bersenjata Iran, saya ingin mengatakan: Insya Allah, keadaan tidak akan menjurus demikian, dan perundingan akan mencapai hasil.”
Menteri Pertahanan Iran melanjutkan, “Tapi jika tidak mencapai hasil dan konfrontasi dipaksakan terhadap kami maka kerugian di pihak lawan akan lebih banyak daripada pihak kami. Jika demikian halnya maka AS harus meninggalkan kawasan sekitar, sebab semua pangkalan mereka berada dalam jangkauan kami, kami dapat menyerangnya, dan kami membombardir semua pangkalan itu di negara-negara tuan rumahnya tanpa perhitungan lagi.”
Nasirzadeh kemudian menuturkan, “Segala puji bagi Allah, kami telah mencetak berbagai prestasi besar di bidang pertahanan, dan pasukan operasional kami bersenjata lengkap. Keberhasilan terbaru kami baru terjadi semingguan lalu berupa kesuksesan menguji coba sebuah rudal berhulu ledak seberat 2 ton.”
Secara terpisah, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (Iran) Mayjen Hossein Salami menegaskan kesiapan Iran menjalani segala bentuk pertempuran dengan mengandalkan kemampuan militer dan rudal-rudaln canggihnya.
Dia menekankan bahwa konflik dengan AS tetap ada dan relevan, meskipun geografi dan keseimbangan kekuatannya juga berubah.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan peringatan keras kepada tiga negara Eropa (Inggris, Prancis, dan Jerman) penandatangan perjanjian nuklir dengan Iran tahun 2015. Araghchi menuding tiga negara yang dikenal sebagai E3 itu gagal memenuhi kewajiban mereka.
Dalam postingan di X, Araghchi mengkritik rekam jejak E3 dalam implementasi perjanjian nuklir 2015, yang dinamai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
“E3 telah memiliki WAKTU TUJUH TAHUN untuk mengimplementasikan komitmen mereka pada JCPOA. Mereka benar-benar gagal, baik karena desain maupun ketidakmampuan,” tulisnya.
Dia mengecam tindakan trio Eropa belakangan ini, yang dia sebut provokatif dan kontraproduktif bagi diplomasi.
“Alih-alih menunjukkan penyesalan atau keinginan untuk memfasilitasi diplomasi, E3 saat ini justru mempromosikan konfrontasi melalui tuntutan absurd bahwa Iran harus dihukum karena melaksanakan haknya berdasarkan JCPOA untuk menanggapi ketidakpatuhan mitranya,” tegasnya.
Araghchi menyatakan demikian setelah E3 dan AS di Dewan Gubernur IAEA pada pekan ini mengajukan resolusi anti-Iran sembari melontarkan ancaman terbaru untuk menerapkan mekanisme penyelesaian sengketa JCPOA yang akan mengarah pada penerapan kembali sanksi PBB yang ditangguhkan berdasarkan perjanjian 2015. (mm/alalam/presstv)