Damaskus, LiputanIslam.com – Pemimpin pemerintahan baru Suriah, Abu Muhammad al-Julani, yang belakangan menggunakan nama Ahmed Al-Sharaa, menyatakan negaranya ingin menjalin hubungan dengan Iran, namun harus didasari apa yang disebutnya “kedaulatan” dan “tidak adanya campur tangan dalam urusan” Suriah.
“Suriah tidak dapat melanjutkan tanpa hubungan dengan negara regional besar seperti Iran, namun harus didasarkan pada rasa saling hormat atas kedaulatan kedua negara dan tidak ada campur tangan dalam urusan internal kedua negara,” ungkapnya dalam wawancara dengan stasiun saluran Al Arabiya milik Arab Saudi yang disiarkan pada hari Minggu (29/12.
“Saya berharap Teheran akan mempertimbangkan kembali campur tangannya di kawasan dan mempertimbangkan kembali kebijakannya,” sambungnya.
Dia juga menambahkan bahwa “banyak sekali orang yang menginginkan peran positif Iran di kawasan.”
Dia menyebutkan bahwa Departemen Operasi Militer “menjalankan tugasnya terkait markas-markas Iran meskipun ada luka.”
“Kami mengharapkan pernyataan positif dari Teheran,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa pihaknya tidak ingin Rusia keluar dengan cara yang tidak sesuai dengan hubungannya dengan Suriah.
“Rusia adalah negara terkuat kedua di dunia dan memiliki kepentingan yang besar,” tuturnya, sembari menilai Damaskus mempunyai kepentingan strategis dengan Moskow.
Dia juga berharap pemerintahan presiden terpilih AS Donald Trump bersedia mencabut sanksi yang dijatuhkan terhadap Suriah pada masa pemerintahan Presiden terguling Bashar al-Assad.
Al-Julani menyebut pernyataan Saudi baru-baru ini mengenai Suriah sebagai hal yang “sangat positif,” dan menjelaskan bahwa “Kerajaan mengupayakan stabilitas Suriah, dan memiliki peran besar dalam masa depan negaranya.”
Dua hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah klaim Liga Arab bahwa Iran mencampuri urusan Suriah.
“Sebagaimana Anda, kami juga menginginkan stabilitas, ketenangan, dan pencegahan kekacauan dan gangguan di Suriah karena alasan yang sangat jelas,” tulis Araghchi dalam sebuah posting berbahasa Arab di akun X miliknya pada hari Jumat (27/12).
Araghchi menyebutkan adanya sembilan alasan Teheran menginginkan stabilitas di Suriah, antara lain demi terjaganya integritas teritorial Suriah, keamanan semua kelompok etnis dan agama, dan kehormatan tempat-tempat suci, serta pencegahan kepemilikan senjata ilegal. (mm/raialyoum/alalam)