Khartoum, LiputanIslam.com – Kepala Dewan Transisi Berdaulat Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, mengumumkan mobilisasi umum Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) pada hari Jumat, dan menyerukan kepada seluruh rakyat Sudan yang mampu memanggul senjata untuk maju dan berpartisipasi dalam pertempuran yang sedang berlangsung melawan Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Berbicara kepada khalayak ramai di kota Al-Sarija di Negara Bagian Gezira, Burhan mengaku tidak akan menerima para pemberontak “dan mereka yang berdiri bersama mereka,” dan menekankan bahwa hak-hak warga sipil korban yang dibunuh oleh RSF tidak akan diabaikan.
Dia menambahkan bahwa rakyat Sudan “akan membalas dendam kepada para pemberontak,” dan bahwa perang tidak akan berakhir sampai pemberontakan dikalahkan, dan bahwa angkatan bersenjata “bertekad untuk mengakhiri pemberontakan.”
Dia jugamenegaskan penolakannya terhadap mediasi apa pun sebelum RSF “melucuti senjata.”
Di pihak lain, menanggapi pernyataan al-Burhan, penasihat komandan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) Mohamed Hamdan Hemedti mengatakan bahwa deklarasi mobilisasi al-Burhan dan penolakannya untuk bernegosiasi merupakan pesan bagi mereka yang yakin dia akan menanggapi inisiatif untuk mengakhiri perang, dan merupakan respon terhadap pernyataan Rubio serta pesan bagi komunitas internasional. Penasihat Hemedti menilai syarat Burhan agar RSF menyerahkan senjatanya sebelum negosiasi apa pun hanyalah angan-angan dan harapan yang tidak realistis.
Hal ini terjadi setelah Dewan Hak Asasi Manusia PBB dengan suara bulat mengadopsi resolusi pada hari Jumat (14/11) untuk membentuk misi guna menyelidiki pelanggaran yang terjadi di El Fasher, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara, yang berada di bawah kendali RSF.
Dewan tersebut menginstruksikan para penyelidik untuk mengidentifikasi semua pihak yang terlibat dalam dugaan kekejaman yang dilakukan di El Fasher guna membantu menggelandang mereka ke pengadilan.
Sementara itu, Sekjen Dewan Pengungsi Denmark, Charlotte Slente, memperingatkan bahwa “separuh penduduk Sudan”, lebih dari 30 juta orang, kini membutuhkan bantuan kemanusiaan setelah lebih dari dua tahun perang.
Setelah kunjungan lapangan ke perbatasan Sudan-Chad, Slente mengatakan penderitaan penduduk “tak terbayangkan”, mengingat gelombang besar pengungsi yang mengungsi ke Chad, yang saat ini telah menampung 1,5 juta pengungsi Sudan yang tinggal di kamp-kamp di sepanjang perbatasan.
Slente mengkritik “kepasifan komunitas internasional”, dengan alasan bahwa mengeluarkan pernyataan tidak menghentikan kekerasan maupun meringankan skala bencana kemanusiaan. Ia menyatakan bahwa Sudan memiliki “jumlah pengungsi internal terbesar di dunia”, dengan pelanggaran yang meluas termasuk pembunuhan massal, kekerasan seksual, penangkapan sewenang-wenang, penculikan, dan penghilangan paksa.
Ia juga berbicara tentang eskalasi kekerasan dalam beberapa pekan terakhir, menyusul pengambilalihan El Fasher oleh RSF dan meluasnya pertempuran ke Kordofan, tempat kota Kadugli dan Dilling dikepung, sementara serangan terhadap Babanusa terus berlanjut.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perang yang meletus di Sudan pada April 2013 telah mengakibatkan kematian puluhan ribu orang dan pengungsian 12 juta orang, baik secara internal maupun eksternal, menjadikannya “krisis kemanusiaan terburuk di dunia.” (mm/aljazeera)