AbuDhabi, LiputanIslam.com – Dalam suatu perkembangan yang mengejutkan, Suriah berbicara dengan bahasa yang tak biasanya dalam isu-isu sensitif, dan mendobrak salah satu pantangan dalam urusan yang paling pelik dalam sejarah politiknya, yaitu perdamaian dengan Israel. Demikian dilaporkan saluran Sky News Arabia, Sabtu (26/4).
Menurut saluran yang bermarkas di Abu Dhabi, UEA, tersebut, anggota parlemen AS dari Partai Republik Marlin Stutzman mengumumkan kesiapan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa alias Abu Muhammad Al-Julani untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, tapi pada suasana yang tepat, dan bergabung dengan Perjanjian Abraham (mengenai normalisasi Arab-Israel).
“Presiden Al-Shaara mengatakan bahwa dia terbuka terhadap Perjanjian Abraham,” kata Stutzman.
Stutzman telah menemui Al-Sharaa di Damaskus beberapa waktu lalu. Menurutnya, Al-Sharaa, yang dulu dikenal sebagai gembong kelompok teroris Jabhat Tahrir al-Sham (HTS), memandang langkah itu akan memperbaiki hubungan Suriah dengan Israel dan negara-negara lain di kawasan sekitar, selain dengan AS.
Pesan al-Sharaa itu mengemuka di tengah upayanya mendesak Trump agar mencabut sanksi AS terhadap Suriah, dan menenangkan kekuatiran Israel terhadap pemerintah baru Suriah. Damaskus berulang kali menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin terlibat konflik dengan Israel serta berkomitmen penuh pada perjanjian gencatan senjata 1974. (mm/sahara)