Gaza, LiputanIslam.com – Hamas menegaskan pihaknya tidak akan mengendurkan tuntutannya untuk gencatan senjata dan penarikan tentara Israel dari Jalur Gaza sebagai imbalan atas pembebasan tawan yang mereka tahan sejak serangan 7 Oktober 2023.
Abu Obeida, juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer gerakan tersebut, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi pada hari Jumat (8/3) mengatakan, “Prioritas utama kami untuk menyelesaikan pertukaran tahanan adalah komitmen penuh untuk menghentikan agresi dan penarikan musuh, dan tidak ada kata menyerah.”
Abu Obeida menilai “sudah jelas bahwa pemerintah musuh menggunakan penipuan dan penghindaran dalam negosiasi dan ditandai dengan kebingungan dan kecemasan.”
“Prioritas utama kami untuk menyelesaikan pertukaran tawanan adalah komitmen penuh untuk penghentian agresi dan penarikan mundur musuh, dan tak ada konsesi dalam hal ini.,” tegasnya.
“Perang telah memasuki bulan keenam, dan musuh masih melakukan pembantaian Nazi terhadap rakyat kami,” lanjutnya.
Dia juga mengatakan, “Serangan 7 Oktober terjadi sebagai respon terhadap agresi selama puluhan tahun yang berpuncak pada upaya Yudaisasi dan penghancuran Al-Aqsa.”
Abu Obeida menjelaskan, “Hukum-hukum komunitas internasional yang sudah ketinggalan zaman berlaku untuk melindungi ketidakadilan dan agresi di bawah pengaruh pemerintahan AS… Pertempuran ini membuka sebuah fase baru di tingkat dunia, yang temanya adalah adalah bahwa hak hanya dapat diambil dengan kekerasan.”
Dia mengatakan, “Rakyat kami menghadapi agresi Zionis-AS yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Negara-negara di dunia tidak berdaya menghadapi penjajah yang tak berprikemanusiaan…. Aksi ugal-ugalan para Zionis meningkat dengan naiknya pemerintahan paling ekstremis dan ala Nazi ke tampuk kekuasaan di entitas tersebut, yang telah merencanakan apa mereka lakukan.”
Abu Obeida menambahkan, “Tangan zalim dan gemetar muncul di Dewan Keamanan untuk menghalangi setiap upaya, bahkan jika itu formal, untuk melindungi kaum tertindas. Kami telah memerangi musuh selama 154 hari, menimbulkan kerugian besar pada para perwiranya, tentara, tentara bayaran, dan kendaraan, dan kami memiliki lebih banyak lagi.”
Dia bersumpah, “Musuh tidak akan tenang di tanah kami dan tidak akan berhasil memberikan keamanan kepada dirinya sendiri sebelum rakyat kami mendapatkan hak-haknya…. Kami menyambut Ramadhan dengan jihad dan ribat pada masa di mana para ksatria menjadi mulia , sementara para Zionis tidak mementingkan kesucian Masjid Al-Aqsa meskipun mereka mengklaim sebaliknya.”
Abu Ubaida menyerukan kepada rakyat Palestina agar “bermobilisasi dan bergerak ke Al-Aqsa, menetap di sana, dan tidak membiarkan pendudukan memaksakan fakta di lapangan.”
Dia menegaskan, “Mujahidin kami terus berjuang menghadapi agresi di mana pun tentara musuh berada di Gaza.” (mm/raialyoum)