Gaza, LiputanIslam.com – Juru bicara sayap militer Hamas Brigade Al-Qassam, Abu Obaida, mengatakan bahwa setelah 32 minggu sejak 7 Oktober, rakyat Gaza dan para pejuang resistensi mereka terus menjalani perang tak seimbang dan pertahanan yang epik melawan barbarisme pasukan Zionis Israel.
Dalam sebuah pernyataan video yang dirilis pada hari Jumat (17/5), Abu Obaida mengatakan, “Selama berhari-hari, bermalam-malam, dan berminggu-minggu, musuh dan pemerintahan NAZI-nya melakukan kejahatan genosida yang paling keji terhadap rakyat kami.”
Berikut ini beberapa poin utama pernyataan Abu Obaida:
– Tentara Zionis membual tentang kejahatan yang dilakukannya di Gaza, dan menganggap semua itu sebagai prestasi militer.
– Intimidasi, kejahatan, dan penghancuran sistematis adalah strategi konsisten yang digunakan Israel di Gaza.
– Israel mengancam setiap kali ingin meraih kemenangan atau prestasi, namun tetap akan dihadang oleh para pejuang Gaza.
– Israel yang kebingungan dalam berbagai hal memutuskan untuk melancarkan agresi darat terhadap Rafah, lingkungan Zaytoun, dan Jabalia, karena mengira semua daerah itu sudah mudah untuk dimangsa.
– Israel beranggapan jika mereka menebar kehancuran di semua tempat selama lebih dari tujuh bulan maka perlawanan yang mereka hadapi akan minim, namun anggapan demikian hanyalah ilusi belaka.
– Israel kembali masuk jurang neraka dan menghadapi perlawanan yang lebih keras.
– Dalam 10 hari, para pejuang Gaza mampu menyerang 100 kendaraan militer Zionis di medan laga..
– Di semua wilayah serangannya, tentara Israel mendapati puluhan anggotanya tewas dan luka, dan hampir tidak berhenti mengevakuasi anggotanya yang bergelimpangan.
– Israel hanya mengumumkan sebagian dari kerugiannya, sementara jumlah kerugian mereka yang dilihat oleh para pejuang Gaza lebih besar.
– Para pejuang Gaza menghadapi pasukan Zionis dengan mengerahkan segenap upayanya melawan dengan segala senjata yang mereka miliki, termasuk senjata anti-kendaraan lapis baja dan anti-personil. Mereka mengebom gedung, meledakkan pintu terowongan bawah tanah dan mengaktifkan ladang ranjau.
– Meskipun terjadi aksipelaparan, penghancuran dan pembunuhan, para pejuang Gaza tetap eksis dan muncul di hadapan musuh dari mana saja.
– Para pejuang menghadapi pasukan Zionis yang gemetar dan lemah, dan membuat musuh pulang dengan membawa kehancuran serta tidak menemukan apa pun selain kekecewaan.
– Senjata AS yang digunakan untuk memusnahkan penduduk Gaza menyebabkan kehancuran besar-besaran, dan ini merupakan satu-satunya pencapaian musuh.
– Setelah 224 hari, perlawanan panjang para pejuang dan ketabahan penduduk Gaza menunjukkan kemampuan mereka bertahan solid dan terus bertempur.
Di pihak lain, tentara Israel di hari yang sama mengumumkan bahwa seorang anggotanya yang berpangkat di Brigade pada Pasukan Terjun Payung tewas dalam pertempuran di Jalur Gaza utara.
Tentara Israel mengatakan bahwa anggotanya yang tewas adalah Sersan Ben Avishai, 20 tahun, dari Nahariya.
Situs saluran i24 News milik Israel menyatakan bahwa kematian Ben Avishay tidak ada hubungannya dengan operasi yang dilakukan pada malam hari untuk menemukan mayat tiga orang Israel yang ditawan pejuang Gaza.
Kematian Avishay membuat catatan resmi tentara Israel yang tewas dalam operasi darat melawan para pejuang Palestina di Gaza bertambah menjadi 275 orang, sedangkan jumlah total tentara dan perwira Israel yang terbunuh sejak 7 Oktober 2023 bertambah menjadi 628 orang. (mm/alalam)