Teheran, LiputanIslam.com – Kementerian Pertahanan Israel mengungkapkan bahwa departemen rehabilitasinya saat ini sedang merawat sekitar 80.000 tentara yang terluka, termasuk 26.000 yang menderita gangguan psikologis, menurut laporan surat kabar Israel Yedioth Ahronoth (YA), Rabu (6/8).
YA mengutip pernyataan departemen tersebut bahwa mayoritas tentara yang terluka ini adalah anggota militer dan menerima berbagai layanan terapi, dan bahwa gangguan stres pascatrauma merupakan lebih dari 33% dari kasus psikologis tersebut.
Laporan itu menyebutkan bahwa Departemen Rehabilitasi mengalokasikan lebih dari separuh anggaran tahunannya – sekitar 4,2 miliar shekel (setara dengan $1,2 miliar) – untuk menyediakan perawatan psikologis dan perawatan berkelanjutan bagi tentara yang terdampak.
Departemen tersebut menilai meningkatnya jumlah korban dan prevalensi bunuh diri di kalangan personel militer sebagai “tantangan besar nasional.”
Sejak 7 Oktober 2023, pasukan Zionis Israel melanjutkan perang genosida terhadap penduduk Jalur Gaza, dan sejauh ini telah menjatuhkan korban jiwa dan luka sebanyak lebih dari 211.000 orang, yang sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak, serta menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi dan meluasnya bencana kelaparan, yang juga telah merenggut nyawa banyak warga sipil.
Sementara itu, Ketua Dewan Islam Palestina, Syekh Saeed Qassem, menyerukan kepada umat Islam untuk bangkit dan berubah dengan cara meniti jejak Imam Husain as, cucunda Nabi Muhammad saw, yang gugur syahid dalam perjuangannya di Karbala pada tahun 61 Hijriah.
“Dunia Islam saat ini harus bangkit dan bergerak melampaui teori bahwa ‘pemerintah tidak mau, pemerintah tidak berdaya, pemerintah tidak mampu’”, ujar Syekh Qassem dalam sebuah wawancara dengan saluran Al-Alam pada acara Menurut Al-Quds yang ditayangkan pada hari Rabu (6/8).
Dia menekankan bahwa Imam Hussein as bangkit bersama sejumlah kecil sahabatnya, dan tetap berangkat berjuang pergi meskipun menyadari tidak memiliki kekuatan untuk melawan pasukan yang besar dan bahwa mereka akan terbunuh.
Dia mengatakan, “Kita sekarang perlu mencintai akhirat, mencintai kematian, dan menyambut kematian, karena dalam menyambut kematian ini terdapat kehidupan. Seandainya Al-Hussein tidak menyambut kematian, beliau akan lenyap dalam sejarah dan tidak akan memiliki pengaruh sedemikian besar. Namun, pelukannya terhadap kematian memberinya kehidupan, dan kini beliau hidup.” (mm/alalam)