4 Pesawat Pembom B-52H Tiba Di Qatar, AS Nyatakan Siap Hadapi Iran

0
146

Washington, LiputanIslam.com – Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) urusan Timur Dekat Timothy Linder King mengatakan bahwa AS dan negara-negara sekutunya di kawasan Teluk Persia siap menghadapi Iran jika keadaan menuntut demikian.

“Kami telah berlatih dengan para sekutu, bekerja dengan mereka, membekali mereka selama bertahun-tahun, dan banyak di antara negara-negara ini telah berpartisipasi dengan kami dalam perang di Afghanistan, Irak, dan di tempat lain, dan tentu saja mereka akan siap jika kami tiba di sana,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi, sebagaimana dikutip Rai al-Youm, Jumat (10/5/2019).

Linder King menekankan bahwa pamer kekuatan AS dengan pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln sangat penting, dan menyerukan kepada musuh AS agar berhati-hati.

Kementerian Pertahanan AS Pentagon Kamis lalu (9/5/2019) mengumumkan tibanya empat pesawat pembom strategis “B-52H” di pangkalan udara di Qatar, sementara sekelompok kapal perang  yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di Terusan Suez dalam perjalanan menuju Teluk Persia, “setelah menerima” indikasi adanya ancaman nyata oleh rezim Iran. ”

Linder King mengklaim ada ancaman Iran untuk menggunakan proksinya di Yaman untuk menembakkan rudal ke Arab Saudi dan UEA, serta serangan terhadap kapal-kapal di Teluk Persia.

“Kami melihat kemampuan dan kemauan Iran dan para sekutunya untuk melakukan tindakan ini dan ini adalah ancaman dan mengacaukan kawasan, jadi kami ingin mereka menghentikan provokasi ini ,” ujarnya.

Dia menyebutkan bahwa pengiriman pasukan ofensif  AS itu bertujuan memberi pesan kepada Iran dan negara-negara sekutu AS di Teluk Persia bahwa “AS tidak akan mundur.”

Linder King menambahkan, “Ini bertujuan bukan untuk mencapai konfrontasi militer, (melainkan) kami ingin memastikan bahwa Iran mengurangi eskalasi dan menghentikan tindakan-tindakan  itu di kawasan.”

AS Tak Berani Serang Iran

Wakil komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Urusan Politik Brigjen Yadollah Javani menegaskan bahwa AS tidak akan berani melakukan tindakan militer terhadap Iran, dan Iranpun tidak akan mengadakan pembicaraan dengan AS.

Sebagaimana dilansir kantor berita Fars, Jumat (10/9/2019), Javani mengatakan bahwa Trump mengembargo Iran dengan tujuan mengacaukan situasi internal Iran dan kemudian memaksa negara republik Islam ini duduk di meja perundingan dengan AS, namun hal ini ternyata tidak terjadi.

Dia menambahkan bahwa AS telah mencapai suatu kesimpulan yang membuatnya merasa harus  meningkatkan sanksi terhadap Iran, dan dari sini AS memasukkan IRGC ke dalam daftar terorisme dan mengirim kapal induk ke kawasan Teluk seolah mengisyaratkan kemungkinan akan mengambil tindakan militer serta  “menakut-nakuti rakyat dan para pejabat Iran demi memaksa mereka bernegosiasi, sebagaimana  apa yang dinyatakan Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan terbarunya yang menyerukan kepada para pejabat Iran agar bersedia menghubunginya dan duduk di meja perundingan.”

“AS mulai mengalami sebentuk depresi dan kegugupan akibat ketidak berdayaannya sehingga mereka menggunakan semua fasilitasnya untuk mematahkan perlawanan bangsa Iran,” katanya.

Donald Trump Kamis lalu (9/5/2019) menyatakan terbuka kemungkinan dirinya melakukan dialog dengan petinggi Iran.

“Apa yang ingin saya lihat dari Iran ialah saya ingin mereka melakukan panggilan telepon kepada saya. Secara finansial, mereka memiliki potensi besar, ” tuturnya kepada wartawan di Gedung Putih.

Trump juga menyebutkan bahwa mantan menteri luar negeri AS John Kerry pernah meminta Iran tidak melakukan komunikasi telepon dengan Trump terkait masalah sanksi baru. Namun, Trump mengaku mengabaikan hal itu.

“Tapi mereka harus menelepon. Jika mereka melakukannya, kita terbuka untuk berbicara dengan mereka,” lanjut Trump. Dia kemudian mengklaim bahwa AS dapat “membantu memulihkan kondisi Iran.”

Trump membuat pernyataan demikian pada saat terjadi ketegangan yang intensif antara negaranya dan Iran terkait sanksi yang dikenakan oleh Washington terhadap Teheran setelah Trump mengumumkan penarikan dari perjanjian nuklir.

AS juga memperketat tekanan pada Teheran dengan menjatuhkan sanksi baru pada sektor pertambangan Iran pada hari Rabu lalu. (mm/raialyoum/afp)

DISKUSI: