Sanaa, LiputanIslam.com – Belasan tentara Yaman gugur diserang akibat serangan AS dan Inggris, dan telah dimakamkan, menurut laporan media Yaman. Bersamaan dengan ini, petinggi Yaman kubu Ansarullah memperingatkan bahwa Yaman akan melakukan eskalasi militer jika Israel melancarkan operasi militer di Rafah, Jalur Gaza.
Kantor berita Yaman, Saba, melaporkan bahwa padahari Sabtu (10/2) telah dilangsungkan prosesi pemakaman jenazah sejumlah syuhada bangsa dan angkatan bersenjata dan keamanan gugur akibat pemboman AS-Inggris.
Saba mengumumkan 17 nama syuhada dengan berbagai pangkat, termasuk kolonel, mayor, dan kapten, namun tidak merinci waktu dan tempat pembunuhan mereka.
Ini adalah kedua kalinya tentara Yaman mengumumkan adanya korban jiwa di antara anggotanya akibat serangan AS-Inggris. Sedangkan yang pertama kalinya terjadi ketika AS-Inggris memulai serangannya di Yaman pada 12 Januari. Saat itu dilaporkan bahwa lima tentara Yaman gugur dan enam lainnya cedera.
Prosesi pemakaman belasan syuhada Yaman diikuti oleh massa pelayat dalam jumlah besar. Massa mengutuk agresi AS-Inggris terhadap Yaman, dan menegaskan bahwa kejahatan ini tidak akan menyurutkan semangat bangsa Yaman untuk terus memberikan dukungan kepada saudara-saudara mereka di Jalur Gaza.
Saba tidak memberikan rincian mengenai waktu dan tempat pembunuhan mereka, namun sehari sebelumnya tentara Yaman mengumumkan bahwa AS dan Inggris menyerang berbagai sasaran provinsi Saada (utara) dan dan Hodeidah (barat). (
Sementara itu, Anggota Dewan Politik Tertinggi di Yaman, Muhammad Ali Al-Houthi, menegaskan bahwa operasi militer anti-Israel di Yaman akan terus berlanjut selagi agresi dan blokade Israel terhadap Gaza masih berlanjut, dan akan meningkat jika pasukan pendudukan melancarkan operasi militer di Rafah di bagian selatan Jalur Gaza.
Dia menegaskan bahwa hal ini akan berhenti ketika makanan, obat-obatan, dan kebutuhan kemanusiaan mencapai seluruh wilayah Jalur Gaza, “dan kejahatan yang mengerikan dan keji serta genosida terhadap rakyat Gaza berhenti.”
Dia juga mengatakan bahwa kelanjutan operasi angkatan bersenjata “tidak sia-sia, melainkan sebuah langkah sadar yang membawa tujuan kemanusiaan, moral, agama, dan persaudaraan yang tinggi untuk menghentikan pembantaian genosida yang dilakukan oleh entitas Israel terhadap rakyat Gaza”.
Muhammad Ali Al-Houthi menjelaskan bahwa “operasi angkatan bersenjata memilih sasaran yang jelas dan spesifik untuk menargetkan Israel, dan operasi tersebut terus berlanjut tanpa menargetkan Amerika dan Inggris, sampai keduanya terlibat dalam agresi terhadap Yaman, dan mereka menjadi sasaran juga, sementara tidak ada negara lain yang menjadi sasaran.”
Dia mengimbau negara-negara dunia untuk tidak terpengaruh oleh kedustaan dan fitnah AS tentang Yaman.
“Negara mana pun yang merasakan kegelisahan yang disebarkan oleh Amerika dan Inggris terhadap perusahaan-perusahaan pelayaran internasional adalah tidak berdasar, dan semua negara dapat berkoordinasi dengan Yaman, seperti yang diumumkan oleh pemimpin revolusi, Sayid Abdul-Malik Al-Houthi , dan hendaklah mereka semakin tenang dalam aktivitas komersial mereka.” (mm/raialyoum/almayadeen)