Gaza, LiputanIslam.com – Petugas penyelamat Palestina telah menemukan banyak jenazah dari reruntuhan di Jalur Gaza, sementara pasukan Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Hamas.
Tim penyelamat dan pertahanan sipil pada hari Kamis (23/1) mengaku menemukan sedikitnya 137 jenazah dari bawah reruntuhan dalam 24 jam terakhir.
Kementerian kesehatan di Gaza mengatakan rumah sakit telah menerima 122 jenazah, 120 di antaranya “ditemukan dari bawah reruntuhan.”
Kementerian tersebut kepada menyerukan kepada warga Gaza untuk menyerahkan informasi tentang orang yang meninggal atau hilang guna membantu memperbarui catatannya.
Ribuan warga Palestina masih terjebak di bawah reruntuhan. Jurnalis Palestina telah membagikan video di platform media sosial yang memperlihatkan para penyintas di Gaza berusaha menemukan kerabat mereka di antara jenazah yang dibungkus kain kafan putih.
Jumlah korban gugur akibat perang Israel di Gaza telah mencapai sekitar 47.300 dan dipastikan akan terus bertambah meskipun ada gencatan senjata karena akan ada temuan jenazah lagi di bawah reruntuhan setiap hari.
Sementara itu, pasukan Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dan melancarkan serangan baru di seluruh wilayah yang terblokade tersebut.
Dalam agresi Israel terbaru, sedikitnya dua warga Palestina gugur akibat tembakan tank Israel di lingkungan Tal al-Sultan, Rafah.
Serangan quadcopter menyasar warga sipil di kamp pengungsi al-Shaboura dekat Rafah, yang mengakibatkan satu orang gugur dan beberapa lainnya cedera.
Terdapat laporan tembakan sengit dari tank-tank Israel di dekat persimpangan Karem Abu Salem di kota selatan Rafah. Persimpangan tersebut sangat penting untuk pengiriman bantuan ke Jalur Gaza.
Kapal Angkatan Laut Israel juga menembaki pantai-pantai di Gaza utara dan selatan.
Netanyahu ingin memperpanjang perang
Mantan kepala militer Israel Moshe Ya’alon mengecam koalisi yang berkuasa di bawah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan mengatakan bahwa koalisi tersebut tidak bekerja dengan itikad baik untuk membebaskan tawanan.
Ya’alon mengatakan bahwa pemerintah Netanyahu bertindak melawan kepentingan entitas Israel dengan mencoba memperpanjang perang di Gaza.
“Pemerintah ingin perang berlanjut hingga akhir masa jabatannya, bertentangan dengan kepentingan Israel. Mereka tidak bertindak dengan tulus untuk membebaskan tawanan. Kita bisa saja membebaskan mereka pada November 2023,” katanya kepada Radio Militer Israel.
Itamar Ben-Gvir, mantan menteri sayap kanan Israel yang mengundurkan diri sebagai protes atas perjanjian gencatan senjata, mengecam keras dan menyebutnya sebagai “penyerahan yang gegabah” dan “penghinaan.”
Ben-Gvir dan beberapa menteri lainnya telah mengundurkan diri dari koalisi yang berkuasa di bawah Netanyahu terkait perjanjian gencatan senjata di Gaza.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich belakangan ini juga mengancam akan menjatuhkan koalisi Netanyahu jika Jalur Gaza tidak diduduki. (mm/presstv)