Gaza, LiputanIslam.com – Sumber-sumber di rumah sakit Gaza melaporkan sedikitnya 115 warga Palestina, termasuk 92 pencari bantuan, gugur di serang pasukan Zionis Israel sejak dini hari Minggu (20/7)
Dengan semakin parahnya kelaparan di Gaza, Kementerian Kesehatan mengumumkan telah mencatat 18 kematian di Jalur Gaza akibat kelaparan dalam 24 jam.
Sebuah sumber di Rumah Sakit Baptis di Gaza mengatakan bahwa seorang warga Palestina berkebutuhan khusus meninggal dunia karena kekurangan gizi.
Sebuah sumber medis di Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis melaporkan lima warga Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka akibat tembakan pasukan pendudukan Israel di dekat pusat distribusi bantuan di utara Rafah, Jalur Gaza selatan.
Ambulan dan sumber darurat melaporkan kematian seorang anak dan beberapa cedera lainnya akibat serangan Israel terhadap sebuah apartemen di Gaza barat.
Kementerian Kesehatan di Gaza mengonfirmasi kematian lebih dari 900 warga Palestina, termasuk 71 anak-anak, akibat kelaparan dan malnutrisi, di samping 6.000 orang terluka di antara warga yang mencari bantuan sejak dimulainya perang genosida Israel di Jalur Gaza.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah melancarkan perang genosida di Jalur Gaza, yang menjatuhkan korban gugur dan luka lebih dari 198.000 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan, serta menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang.
Organisasi-organisasi Palestina dan internasional telah memperingatkan bahwa Jalur Gaza sedang mengalami tahap kelaparan terburuk akibat blokade Israel.
Hamas menegaskan bahwa pembantaian yang dilakukan oleh tentara pendudukan Israel terhadap warga sipil yang kelaparan di dekat wilayah Zikim di Jalur Gaza utara merupakan eskalasi dari perang genosida, yang menggunakan bantuan dan pelaparan untuk menjebak, membantai, dan menyiksa orang-orang yang tak berdosa.
Hamas dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu menekankan bahwa apa yang terjadi di Jalur Gaza merupakan kejahatan besar di mana pembunuhan, pelaparan, dan perampasan air digunakan sebagai alat untuk pembersihan etnis dan genosida. Hal ini menuntut tindakan internasional segera untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan ini, yang sengaja diperburuk oleh rezim pendudukan pimpinan penjahat perang Netanyahu.
Hamas menyoal, “Bagaimana mungkin dunia tetap bungkam menyaksikan kematian lebih dari 70 anak akibat kekurangan gizi, sementara mayoritas penduduk Jalur Gaza menghadapi kematian massal akibat pengepungan dan kebijakan pelaparan yang diberlakukan oleh pendudukan di Jalur Gaza selama 140 hari?”
Hamas menambahkan, “Bagaimana mungkin dunia, dan siapa pun yang memiliki hati nurani, menerima bahwa ribuan ton bantuan masih menumpuk di balik perlintasan Rafah, sementara orang-orang di Gaza meninggal karena kelaparan, kehausan, dan penyakit?” (mm/aljazeera/alalam)