Tak Berani Berperang, Israel Akhirnya Setujui Penentuan Perbatasan Bahari

0
25

Beirut,LiputanIslam.com-Beirut dan Tel Aviv baru-baru ini telah menyepakati penentuan perbatasan bahari yang sempat dipersengketakan. Sekjen Hizbullah dalam pidatonya pada akhir pekan lalu membahas kronologi dari ditekennya kesepakatan tersebut.

“Dengan izin Parlemen dan berdasarkan keputusan resmi, Pemerintah Lebanon mengumumkan bahwa perbatasan kita adalah blok 23, yang dimulai dari blok dekat al-Naqura. Keseluruhan kawasan yang terletak di utara blok 23 sebagai kawasan komersil harus dibebaskan.  Ini menjadi sebuah isu nasional bagi rakyat dan Perlawanan,” papar Sayyid Hasan Nasrallah.

“Israel menentukan batas yang dikenal dengan blok 1 al-Naqura, yang mencakup kawasan luas. Lebanon menganggapnya sebagai hak dan kawasan komersilnya. Namun Israel melarang siapa pun mendekatinya. Luas antara blok 23 dan blok 1, seperti yang dijelaskan Pemerintah Lebanon dan Israel, kurang lebih mencapai 879 km persegi.”

Ia menjelaskan, Prancis dan Inggris telah menentukan perbatasan darat di tahun 1923 tanpa keterlibatan apa pun dari Lebanon dan Palestina. Setelah lahirnya Israel,  tidak ada langkah untuk menentukan perbatasan bahari. Masalah ini baru dibicarakan setelah terbetik berita soal adanya keberadaan sumber gas dan minyak di pesisir selatan Lebanon.

“Setelah kapal (milik Israel) memasuki ladang Karish untuk eksplorasi (minyak), 3 Badan Negara Lebanon mengambil sikap serupa. Mereka menegaskan, dimulainya eksplorasi berarti agresi terhadap Lebanon. Atas dasar sikap ini, Hizbullah memutuskan untuk tidak mengizinkan musuh mengeksplorasi gas serta minyak dari Karish sebelum adanya kesepakatan yang memenuhi tuntutan resmi Lebanon.”

”Pemerintahan Lapid tidak sanggup berperang, tapi juga tidak bisa mengabaikan eksplorasi dari ladang Karish. Sebab itu, ia terpaksa berunding. Orang-orang AS juga berada di bawah tekanan. (Amos) Hochstein juga berkata bahwa kesepakatan ini dibuat lantaran Israel takut berperang,”tandas Sayyid Nasrallah. (af/fars)

DISKUSI: