Swedia Mampu Atasi Covid-19 Tanpa Lockdown Total

0
734

Jalanan di Stockholm, Swedia, di tengah wabah corona pada 1 April 2020. (TT News Agency/Fredrik Sandberg via Reuters)

Stockholm, LiputanIslam.com–Di tengah pandemi Covid-19, negara-negara dunia berbondong-bondong memberlakukan lockdown ekstrem dengan klaim tindakan ini bisa menurunkan angka infeksi. Sayangnya, klaim itu salah, sebab Swedia bisa menjaga kasus Covid-19 di angka rendah tanpa membelakukan kewajiban social distancing yang dramatis.

Swedia hanya mengisolasi penuh warganya yang paling rentan terinfeksi. Meskipun pertemuan lebih dari 50 orang dilarang dan sekolah menengah atas dan universitas ditutup, Swedia tetap membuka TK, sekolah dasar, bar, restoran, taman, dan toko.

Hasilnya, negara Nordik dengan populasi 10,1 juta orang itu menghadapi 9 ribu kasus infeksi dan 870 kematian (per 11 April 2020). Meskipun ini terlihat seperti angka yang tinggi, ini jauh lebih rendah dibandingkan kasus kematian di Italia dan AS yang mencapai 18 ribu (per 11 April 2020).

Kebijakan Swedia ini dipandang sebelah mata oleh banyak pihak, contohnya Presiden Trump yang pada hari Rabu (1/4) mengaku mendengar kabar bahwa Swedia “mencobanya, dan mereka mengalami hal-hal yang benar-benar menakutkan, dan mereka segera mengisolasi diri.” Sejumlah ahli kesehatan juga menuding kebijakan Swedia ini sangat salah. Namun, mantan kepala ahli epidemiologi Swedia dan sekarang penasihat Badan Kesehatan Swedia, Johan Giesecke, justru menyebut kebijakan negara lain adalah ” tindakan politis, tanpa pertimbangan”.

Kebijakan lockdown negara-negara dunia yang tergesa-gesa mengakibatkan kejatuhan ekonomi. Tidak ada yang menjawab pertanyaan sederhana namun kritis ini: Bagaimana kita tahu isolasi sosial benar-benar berfungsi? Jikapun isolasi sosial berfungsi untuk beberapa jenis epidemi, apakah juga berguna bagi COVID-19? Jikapun ternyata berfungsi menekan virus ini, apakah kita harus mengimplementasikan isolasi hingga titik tertinggi? Atau apakah kita mengunci pintu kandang kuda setelah kuda-kuda itu sudah lama pergi?

Secara teori, pengurangan intensitas interaksi fisik mungkin bisa memperlambat laju infeksi. Namun, tanpa pemahaman yang baik tentang berapa lama partikel virus COVID-19 bertahan hidup di udara, di air, dan permukaan benda, semua itu spekulatif. Tanpa informasi yang dapat dipercaya tentang proporsi populasi yang telah terpapar dan berhasil melawan virus corona, ada baiknya mempertanyakan fungsi dari isolasi sosial. Ada kemungkinan bahwa cara tercepat dan teraman untuk “meratakan kurva” adalah dengan membiarkan anak muda berinteraksi secara normal, sementara hanya orang yang lemah dan sakit saja yang tetap diisolasi.

Faktanya, ini adalah pertama kalinya kita lebih fokus mengkarantina orang sehat daripada orang sakit dan rentan. Seperti yang ditulis oleh Direktur European Centre for International Political Economy, Fredrik Erixon, dalam The Spectator minggu lalu: “Teori lockdown, bagaimanapun, adalah ceruk kecil dan sangat tidak liberal – dan sampai sekarang belum teruji. Bukan Swedia yang sedang bereksprimen massal [secara beresiko). Negara lain yang bereksprimen. ”

Ketika ditanya apa buktinya kegunaan isolasi sosial untuk masalah Covid-19, sejumlah akademisi memberikan contoh kapal pesiar Diamond Princess. 700 penumpang kapal itu terinfeksi virus dengan delapan kematian. Namun, patut dikritisi karena kapal itu seperti wadah dimana-orang terkurung dan berdekatan satu sama lain. Tentu saja kondisi di sebagian besar negara dunia tidak seperti itu.

Swedia dengan berani memutuskan untuk tidak memberlakukan lockdown ekstrem seperti negara lain. Mereka tidak memaksa penduduknya untuk berdiam diri di rumah.

“Strategi di Swedia adalah untuk fokus pada jarak sosial di antara kelompok dengan risiko yang diketahui, seperti lansia. Kami mencoba menggunakan pengukuran berbasis bukti,” kata dokter epidemiologi di Institut Karolinska Swedia, Emma Frans, kepada Euronews.

“Kami berusaha menyesuaikan kehidupan sehari-hari. Rencana Swedia adalah untuk mengimplementasikan pengukuran yang dapat kita praktikkan untuk waktu yang lama,” tambahnya.

Dalam wawancara dengan Guardian, kepala ahli epidemiologi Swedia Anders Tegnell mengatakan bahwa problem dari lockdown adalah bisa “melelahkan sistem.” Sebuah negara tidak mungkin mengunci diri selama berbulan-bulan dan menonaktifkan seluruh layanan publik. Selain itu, “orang-orang yang menganggur adalah ancaman besar bagi kesehatan masyarakat. Itu adalah faktor yang perlu Anda pikirkan,” katanya.

Dalam laporan sensus ICU Swedia yang diperbarui setiap 30 menit secara nasional, penerimaan pasien untuk setiap ICU di negara itu semakin “datar atau menurun”, dan ini telah berlangsung selama seminggu. Pada catatan di NationalReview.com yang diunggah 6 April 2020, sebagian besar pasien ICU Swedia saat ini adalah lansia, dan 77 persen memiliki riwayat penyakit seperti jantung, pernapasan, ginjal, dan diabetes. Selain itu, setidaknya hingga catatn itu dibuat, belum ada kasus infeksi kepada anak-anak meskipun sekolah dasar tidak ditutup. Hanya ada 25 pasien ICU di bawah usia 30 tahun.

Swedia telah kekebalan tubuh warganya dengan menolak untuk panik. Tanpa adanya isolasi sosial, kaum muda Swedia memang menyebarkan virus, sebagian besar tanpa gejala, seperti yang seharusnya terjadi pada musim flu normal. Mereka akan menghasilkan antibodi pelindung yang membuat virus Covid-19 semakin sulit menjangkau dan menginfeksi orang tua dan kaum yang rentan. Tingkat kematian akibat Covid-19 pun jauh lebih rendah daripada tingkat kematian di musim flu normal.

Kita bandingkan situasi Swedia dengan di Swiss, negara Eropa yang juga sama-sama kecil dengan penduduk 8,5 juta orang. Swiss mempraktikkan isolasi sosial yang ketat. Namun Swiss melaporkan 24 ribu kasus dan 1,002 kematian (per 11 April 2020).

Ulf Persson dari Institut Ekonomi Kesehatan Swedia mengatakan bahwa setiap orang yang ia kenal bersikap tenang, lebih hati-hati daripada biasanya, dan mengikuti kontrol sosial yang diamanatkan pemerintah yaitu tidak berkupul lebih dari 50 orang dan hanya duduk di bar dan restoran. Persson memperkirakan, bahwa ekonomi Swedia akan turun sekitar 4 persen karena kejatuhan ekonomi global. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan tingkat pengangguran 32 persen yang baru-baru ini diperkirakan oleh Federal Reserve Board of St. Louis Amerika Serikat.

Kini, Swedia terbukti telah mengatasi virus ini untuk generasi yang tak terhitung. Cara terbaik yang mereka lakukan adalah dengan membiarkan anak muda dan sehat untuk mengembangkan antibodi dan kekebalan tubuh mereka dalam rangka melindungi kaum lemah dan sakit. Meskipun dianggap sebelah mata, mungkin cara ini layak dicontoh oleh negara-negara lain. (ra/nationalreview)

*tulisan ini disadur dariHas Sweden Found the Right Solution to the Coronavirus?”

DISKUSI: